Saham Melonjak 830%, Pengendali Baru Mau Suntik Aset Besar via Rights Issue.
Saham PT SMSS melonjak 830% usai pengendali baru mengumumkan rencana Rights Issue (PUT V) untuk menyuntik aset tambang mineral besar senilai Rp 4,8 T.
JAKARTA, JClarity – Kinerja saham PT Sinar Makmur Sejahtera Tbk. (SMSS) mencatat lonjakan fenomenal hingga 830% dalam kurun waktu enam bulan terakhir, didorong oleh optimisme pasar yang masif menyambut rencana aksi korporasi strategis berupa Penawaran Umum Terbatas (PUT) atau Rights Issue dengan penyertaan aset (inbreng) bernilai jumbo dari pengendali baru.
Saham SMSS, yang sebelumnya lama 'tertidur' di level Gocap (Rp 50), kini telah diperdagangkan di kisaran Rp 465 per lembar, menjadikannya salah satu emiten dengan pertumbuhan harga tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini. Momentum kenaikan harga terjadi seiring dengan masuknya investor strategis baru, yakni PT Dana Prospek Nusantara, yang kini resmi menjadi pemegang saham pengendali.
Manajemen SMSS mengonfirmasi bahwa perseroan tengah mempersiapkan PUT V, di mana dana yang dihimpun tidak hanya akan digunakan untuk modal kerja, tetapi juga untuk mengakuisisi aset bernilai strategis yang dimiliki oleh pengendali baru. Aset yang akan di-inbreng disebut-sebut berupa konsesi tambang mineral berkapasitas besar di Kalimantan Timur dengan estimasi cadangan yang signifikan. Nilai total akuisisi melalui rights issue ini diperkirakan mencapai Rp 4,8 Triliun.
“Aksi korporasi ini bertujuan fundamental untuk mengubah lanskap bisnis perseroan secara total, dari yang sebelumnya bergerak di sektor properti minim pergerakan, kini bertransformasi menjadi pemain utama di sektor energi dan pertambangan. Dengan masuknya aset baru yang telah terverifikasi, kami menargetkan peningkatan pendapatan hingga lima kali lipat dalam dua tahun ke depan,” ujar Direktur Utama SMSS, Budi Setiawan, dalam keterangan resminya kepada publik.
Rasio penerbitan saham baru dalam PUT V direncanakan cukup agresif, yakni setiap 1 (satu) saham lama akan mendapatkan 2 (dua) Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Skema ini mengindikasikan bahwa pengendali baru, PT Dana Prospek Nusantara, akan mengeksekusi HMETD mereka secara penuh melalui inbreng aset, sekaligus menjadi sinyal komitmen kuat terhadap masa depan perusahaan.
Analis pasar modal melihat langkah ini sebagai potensi turnaround yang masif. Namun, investor juga diimbau untuk mencermati potensi dilusi yang cukup besar akibat rasio rights issue yang ketat, serta meninjau secara saksama valuasi independen dari aset yang disuntikkan. Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk meminta restu pemegang saham terkait aksi korporasi jumbo ini dijadwalkan akan digelar pada pekan ketiga November 2025.