Saham

Saham Komoditas Energi Seret IHSG Anjlok 0,25% di Penutupan Akhir Oktober

IHSG anjlok 0,25% ke 8.163,87 di penutupan akhir Oktober 2025, diseret saham energi dan bahan baku di tengah tekanan harga komoditas batu bara dan minyak global.

Jakarta, 31 Oktober 2025 · Friday, 31 October 2025 21:00 WITA · Dibaca: 46
Saham Komoditas Energi Seret IHSG Anjlok 0,25% di Penutupan Akhir Oktober

JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir bulan Oktober 2025 di zona merah, tertekan oleh aksi jual masif pada saham-saham yang berkaitan dengan komoditas energi. Indeks ditutup anjlok 0,25% atau setara 20,18 poin, parkir di level 8.163,87.

Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh koreksi yang terjadi pada sektor energi dan bahan baku. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sektor energi tercatat melemah 0,67%, sementara sektor bahan baku yang juga terkait erat dengan komoditas, ambles 0,83%. Sejumlah saham komoditas unggulan seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Barito Pacific (BRPT) menjadi pemberat utama indeks. Meskipun beberapa saham batubara, seperti Adaro Energy (ADRO), sempat mencatatkan kenaikan signifikan secara bulanan, tekanan jual pada hari penutupan bulan mendominasi.

Sentimen negatif datang dari pasar komoditas global. Harga batu bara termal di pasar internasional terpantau bergerak di sekitar US$103,90 per ton menjelang akhir Oktober, tertekan oleh isu kelebihan pasokan dan upaya Tiongkok dalam mengekang kapasitas berlebih melalui kampanye 'anti-involusi'. Sementara itu, harga minyak mentah global juga dibayangi ketidakjelasan pasokan di tengah sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak Rusia dan kegagalan pembahasan energi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Tiongkok, menambah volatilitas pada saham-saham minyak dan gas.

Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan tercatat ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp19,15 triliun, melibatkan sekitar 27,52 miliar saham. Pergerakan didominasi tren negatif, dengan 389 saham mengalami penurunan, 287 saham naik, dan sisanya stagnan. Kendati demikian, koreksi IHSG tertahan oleh kinerja positif dari sektor utilitas dan teknologi, serta saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang tercatat sebagai salah satu penopang utama untuk mencegah kejatuhan yang lebih dalam.

Analis dari PT [Nama Fiktif Perusahaan Sekuritas] melihat koreksi ini sebagai aksi profit-taking yang wajar setelah reli beberapa waktu sebelumnya, serta dampak murni dari sentimen eksternal komoditas global. Proyeksi untuk awal November menunjukkan potensi rebound, terutama jika harga komoditas global dapat menemukan pijakan baru dan data inflasi domestik tetap terkendali. Pelaku pasar disarankan untuk tetap memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan energi Tiongkok yang akan terus mempengaruhi pergerakan saham komoditas.

Login IG