Saham Emiten Gelael & Salim Bisa Loncat 100%, Ada Haji Isam.
Saham FAST, emiten KFC milik Grup Gelael & Salim, diprediksi loncat 100% lebih. Sentimen positif datang dari kolaborasi dan masuknya entitas afiliasi Haji Isam.
JAKARTA, JClarity – Prospek saham emiten pengelola waralaba restoran cepat saji global, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Grup Gelael dan Grup Salim, diproyeksikan dapat melonjak hingga lebih dari 100% menyusul masuknya entitas yang terafiliasi dengan pengusaha Kalimantan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Kenaikan signifikan tersebut didasarkan pada sinergi bisnis baru yang dinilai analis mampu memperkuat prospek pemulihan kinerja perusahaan pemegang hak waralaba eksklusif Kentucky Fried Chicken (KFC) dan Taco Bell di Indonesia ini. Emiten berkode FAST tersebut telah merampungkan transaksi pelepasan sebagian saham anak usahanya, PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI), kepada PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN) pada pertengahan tahun 2025.
PT SFN, perusahaan yang dikendalikan oleh Liliana Saputri, putri sulung Haji Isam, mengambil alih 15% saham JAI atau setara dengan 41.877 lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp54,44 miliar. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi dan Kenzie Keane, dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa masuknya SFN memberikan sentimen baru yang positif bagi FAST.
Menurut riset tersebut, kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat prospek pemulihan kinerja FAST ke depan, di tengah struktur pemegang saham yang solid, di mana Grup Gelael menguasai 41,2% saham dan Grup Salim, melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), memegang 37,5%. Kemitraan strategis antara Grup Gelael dan Grup Salim sendiri telah terjalin sejak tahun 1990.
Selain sentimen dari afiliasi Haji Isam, prospek pertumbuhan jangka menengah hingga panjang FAST juga didukung oleh rencana ekspansi jaringan yang agresif. Hingga tahun 2024, pengelola gerai KFC ini telah memiliki 715 gerai. Perseroan menargetkan penambahan 50 hingga 70 gerai baru per tahun, dengan sasaran mencapai 1.000 gerai pada tahun 2030. Ekspansi ini difokuskan pada optimalisasi gerai dan relokasi ke wilayah secondary city dan pulau-pulau hub yang masih minim terlayani, mengingat 70% restoran cepat saji saat ini masih terkonsentrasi di kota tier-1.