Saham

Saham BBCA Jeblok ke Level Terendah 3 Tahun, Asing Net Sell Capai Rp31,19 Triliun

Saham BBCA anjlok ke level terendah 3 tahun terakhir (Rp7.375) pada 8/10/2025, didorong aksi jual asing (net sell) yang mencapai Rp31,19 T YtD karena perlambatan laba.

Jakarta · Thursday, 09 October 2025 09:00 WITA · Dibaca: 25
Saham BBCA Jeblok ke Level Terendah 3 Tahun, Asing Net Sell Capai Rp31,19 Triliun

JAKARTA, JClarity – Saham emiten perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan kemarin, Rabu (8/10/2025), dan ambruk ke level penutupan terendah dalam tiga tahun terakhir. Peristiwa ini terjadi di tengah arus keluar (net sell) investor asing yang masif, tercatat telah mencapai Rp31,19 triliun sepanjang tahun berjalan (Year-to-Date/YtD).

Pada penutupan perdagangan 8 Oktober 2025, saham BBCA anjlok 2,64% menjadi Rp7.375 per saham. Angka ini menjadi harga penutupan terendah bagi saham milik Grup Djarum tersebut dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Pelemahan ini sangat kontras dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada periode YtD masih mencatatkan penguatan 15,34%, bahkan sempat mencapai rekor harga tertinggi baru (All Time High/ATH). BBCA sendiri menjadi salah satu laggard utama yang memberikan kontribusi pelemahan poin terbesar terhadap IHSG pada tahun 2025.

Tekanan jual yang ekstrem menjadi penyebab utama kejatuhan harga BBCA. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) harian sebesar Rp757,3 miliar pada perdagangan kemarin. Secara akumulatif, total dana investor asing yang keluar dari saham BBCA sejak awal tahun 2025 telah mencapai Rp31,19 triliun, menjadikannya target net sell terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nyaris dua kali lipat lebih besar dari emiten lain yang paling banyak ditinggalkan modal asing.

Para analis pasar menyoroti bahwa tekanan jual asing yang berkepanjangan ini dipicu oleh dua faktor utama: kinerja laba dan valuasi. Meskipun mencatat laba bersih, pertumbuhan laba BBCA sepanjang paruh pertama 2025 hanya mampu tumbuh satu digit, yakni sekitar 8% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan ini merupakan yang terlambat dalam dua tahun terakhir, menandakan adanya perlambatan signifikan yang telah berlangsung selama empat kuartal berturut-turut.

Kinerja laba yang melambat ini memicu kekhawatiran di kalangan investor global mengenai potensi multiple de-rating atau penurunan valuasi saham perbankan big caps, termasuk BBCA. Selain itu, sentimen risiko (country risk premium) di Indonesia juga meningkat, memperkuat tesis penurunan valuasi di sektor perbankan. Secara YtD 2025, saham BBCA telah terperosok lebih dari 23%, jauh lebih buruk dibandingkan kinerja indeks di periode krisis tahun 2008 yang hanya terkoreksi sekitar 10,96%.

Para pelaku pasar kini menanti katalis positif baru, baik dari fundamental perusahaan maupun kebijakan pemerintah, untuk menghentikan derasnya arus keluar modal asing dan mengangkat kembali harga saham BBCA dari level terendah tiga tahunnya.

Login IG