Saham Bank Jumbo 'BBRI-BBCA' Bawa IHSG Tembus 7.500, Apakah Waktunya Ambil Cuan?
IHSG tembus rekor 7.500 didorong BBRI & BBCA. Analis: Kinerja bank kuat, namun investor perlu cermat. Apakah momentum profit taking? Simak analisis selengkapnya.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor baru bersejarah pada penutupan perdagangan pekan ini. Didukung sentimen positif dari pasar global dan data ekonomi domestik yang kuat, IHSG berhasil menembus level psikologis krusial 7.500 dan ditutup kuat di 7.521,45. Kenaikan signifikan ini tidak terlepas dari performa impresif saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar terbesar (*jumbo cap*), yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Pencapaian rekor ini lantas memicu pertanyaan krusial di kalangan investor: apakah ini adalah waktu yang tepat untuk merealisasikan keuntungan (*profit taking*) atau 'ambil cuan'?
Kenaikan BBRI dan BBCA dalam sepekan terakhir menjadi motor utama pengerek IHSG. BBCA, misalnya, telah menguat 3,8% dalam lima hari perdagangan terakhir, menembus harga Rp10.550 per saham, sementara BBRI tidak kalah impresif dengan kenaikan 4,2%, mencapai level Rp6.450 per saham. Analisis pasar menunjukkan bahwa derasnya arus modal asing (*foreign flow*) kembali mengalir deras ke pasar modal domestik, terutama ke sektor finansial yang dianggap stabil, menjadi pendorong utama apresiasi harga. Sentimen domestik didukung oleh stabilnya inflasi dan optimisme pertumbuhan kredit Kuartal IV 2025.
Menurut David Santoso, analis pasar modal dari Insight Equity Research, sentimen positif di sektor perbankan masih didukung oleh rilis kinerja keuangan Kuartal III/IV 2025 yang melampaui ekspektasi konsensus. “Fundamental kedua bank ini sangat kokoh. Pertumbuhan kredit yang solid, didukung oleh rendahnya rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga, serta margin bunga bersih (NIM) yang stabil, memberikan keyakinan bahwa valuasi saat ini masih wajar, bahkan berpotensi terus meningkat,” ujar David. Ia memproyeksikan target harga saham BBCA masih memiliki ruang kenaikan menuju Rp11.000, sementara BBRI berpotensi menyentuh Rp6.700 di awal tahun depan.
Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci. Meskipun fundamental mendukung, investor jangka pendek atau *trader* mulai mewaspadai potensi *profit taking* massal yang bisa memicu koreksi sehat. Secara teknikal, level 7.500 hingga 7.550 kerap dianggap sebagai area resistensi kuat yang dapat menahan laju penguatan lebih lanjut. Selain itu, potensi volatilitas dari sentimen global, seperti keputusan suku bunga Federal Reserve AS atau gejolak harga komoditas, selalu menjadi faktor yang dipertimbangkan investor sebelum mengambil keputusan di tengah euforia *all-time high* ini.
Strategi yang direkomendasikan saat ini adalah *selective buying* dan *partial profit taking*. Bagi investor jangka panjang (*long-term investor*), mempertahankan posisi (hold) pada saham dengan fundamental kuat seperti BBRI dan BBCA tetap disarankan, dengan memanfaatkan potensi dividen yang menarik. Sementara itu, bagi *trader*, disarankan untuk mengamankan sebagian keuntungan, atau 'ambil cuan' sebagian, dan memasang level *stop-loss* yang ketat untuk mengantisipasi gejolak pasar yang mungkin terjadi pasca-rekor. Kehati-hatian adalah kunci di tengah optimisme yang tinggi ini.