Rupiah Menguat, IHSG Langsung Meroket Tembus 7.300: Saham Big Cap Jadi Penopang Utama
IHSG meroket tembus 7.300 didorong penguatan Rupiah dan aksi beli besar-besaran pada saham-saham Big Cap perbankan. Analis sebut prospek ekonomi makro cerah.
Jakarta, JClarity – Sentimen positif domestik dan meredanya tekanan global mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa, 28 Oktober 2025. IHSG berhasil menembus level psikologis 7.300, didukung oleh penguatan signifikan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Laju indeks ditutup di zona hijau, mencerminkan optimisme investor yang kembali membanjiri pasar modal.
Berdasarkan data penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terapresiasi sebesar 1,25% atau naik 90,5 poin ke level 7.325,50. Pencapaian ini merupakan level penutupan tertinggi baru dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan indeks sejalan dengan pelemahan Dolar AS di pasar spot, yang membuat Rupiah ikut perkasa. Nilai tukar Rupiah tercatat menguat ke posisi Rp15.550 per Dolar AS, dari penutupan sehari sebelumnya di level Rp15.650 per Dolar AS.
Kenaikan tajam IHSG tidak terlepas dari aksi beli besar-besaran (net buy) investor asing yang terfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar (Big Cap) di sektor perbankan. Saham-saham yang menjadi motor penggerak utama, atau dikenal sebagai *market mover*, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), kompak ditutup menguat di atas 2%.
Analis Pasar Modal dari Insight Sekuritas, Budi Santoso, menyatakan penguatan Rupiah memberikan katalis positif ganda. “Apresiasi Rupiah tidak hanya menarik kembali dana asing, tetapi juga mengurangi risiko inflasi impor dan biaya utang korporasi. Level 7.300 kini menjadi *support* kuat yang baru. Selama sentimen global tetap kondusif dan arus modal asing terus masuk, peluang IHSG menuju level 7.400 dalam jangka pendek sangat terbuka,” jelasnya.
Pada penutupan sesi, total nilai transaksi perdagangan tercatat mencapai Rp15,5 triliun dengan volume mencapai 28 miliar lembar saham. Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net foreign buy) yang signifikan mencapai lebih dari Rp1,2 triliun, menegaskan kepercayaan pasar global terhadap fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten unggulan di Indonesia.