Riset: Bukan Meringankan, AI Malah Tambah Jam Kerja Karyawan.
Riset terbaru menemukan bahwa AI generatif seperti ChatGPT justru menambah rata-rata jam kerja mingguan karyawan hingga 3,15 jam, bukan meringankan beban kerja.
JAKARTA, JClarity – Harapan bahwa kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan (AI) akan meringankan beban kerja dan memangkas jam kerja karyawan ternyata belum sepenuhnya terwujud. Sebuah riset terbaru dari para ekonom justru menemukan tren yang mengejutkan: penggunaan AI generatif seperti ChatGPT malah memperpanjang waktu kerja mingguan karyawan dan secara signifikan mengurangi waktu luang mereka.
Studi yang dilakukan oleh ekonom dari berbagai universitas terkemuka—termasuk Wei Jiang dari Emory University—menyoroti dampak tak terduga dari paparan AI terhadap dunia kerja. Makalah berjudul 'AI and the Extended Workday: Productivity, Contracting Efficiency, and Distribution of Rents' menganalisis data survei penggunaan waktu yang mencakup periode sebelum dan sesudah peluncuran luas ChatGPT pada tahun 2022.
Hasilnya menunjukkan bahwa pekerja di pekerjaan dengan tingkat paparan tinggi terhadap AI generatif mengalami peningkatan signifikan pada jam kerja mereka. Secara spesifik, peningkatan paparan AI setara dengan penambahan sekitar 3,15 jam kerja per minggu, disertai dengan penurunan waktu luang hingga 3,20 jam per minggu. Temuan ini secara langsung membantah prediksi historis bahwa kemajuan teknologi akan menghasilkan minggu kerja yang lebih pendek, sebagaimana pernah diyakini oleh ekonom John Keynes.
Para peneliti mengidentifikasi dua mekanisme utama yang mendorong perpanjangan jam kerja ini. Pertama, peningkatan produktivitas yang difasilitasi oleh AI membuat setiap jam kerja menjadi lebih bernilai, yang pada gilirannya menciptakan insentif bagi perusahaan dan karyawan untuk memperpanjang waktu kerja mereka. Kedua, AI telah memungkinkan perluasan alat pengawasan digital, terutama dalam lingkungan kerja jarak jauh, yang juga dikaitkan dengan jam kerja yang lebih panjang.
Meskipun AI dinilai memberikan peningkatan produktivitas, temuan ini menyiratkan bahwa manfaat waktu tersebut sebagian besar dinikmati oleh perusahaan dalam bentuk peningkatan output, bukan oleh karyawan dalam bentuk waktu istirahat. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran baru tentang keseimbangan kerja dan hidup (work-life balance), serta potensi penurunan kepuasan kerja bagi karyawan yang semakin terikat pada tuntutan pekerjaan yang dipercepat oleh AI.