Teknologi

Riset: Bukan Meringankan, AI Malah Tambah Jam Kerja Karyawan.

Riset terbaru menemukan fakta mengejutkan, adopsi AI generatif justru menambah jam kerja mingguan karyawan hingga 3,15 jam, bukan meringankannya. CEPR jelaskan alasannya.

JAKARTA · Monday, 27 October 2025 10:00 WITA · Dibaca: 54
Riset: Bukan Meringankan, AI Malah Tambah Jam Kerja Karyawan.

JAKARTA, JClarity – Janji Kecerdasan Buatan (AI) untuk meringankan beban kerja dan mewujudkan pekan kerja yang lebih pendek tampaknya jauh panggang dari api. Sebuah temuan riset terbaru justru mengungkap tren yang mengejutkan: AI generatif, alih-alih memberikan waktu luang, malah memperpanjang jam kerja mingguan bagi karyawan di berbagai sektor.

Studi yang dilakukan oleh para ekonom, termasuk dari Center for Economic and Policy Research (CEPR) dan Emory University, menganalisis data waktu penggunaan dari American Time Use Survey (ATUS) sejak 2004 hingga 2023. Hasilnya menunjukkan bahwa pekerja di bidang pekerjaan yang memiliki paparan tinggi terhadap AI mengalami peningkatan jam kerja mingguan. Secara umum, peningkatan tersebut mencapai 2,2 jam per minggu.

Dampak penambahan jam kerja ini semakin signifikan pasca-perkenalan ChatGPT pada tahun 2022. Pekerjaan yang sangat terpapar pada AI generatif tercatat mengalami peningkatan jam kerja sekitar 3,15 jam per minggu dibandingkan pekerjaan dengan paparan rendah. Peningkatan jam kerja ini juga berbanding lurus dengan penurunan drastis waktu luang, terutama untuk aktivitas non-layar seperti hiburan dan bersosialisasi.

Para peneliti mengidentifikasi dua mekanisme utama yang mendorong perpanjangan jam kerja. Pertama, peningkatan produktivitas yang dihasilkan AI membuat setiap jam kerja menjadi lebih bernilai, menciptakan insentif bagi perusahaan dan karyawan untuk memperpanjang waktu kerja. Kedua, penggunaan AI telah memungkinkan alat pengawasan digital yang lebih luas, khususnya di lingkungan kerja jarak jauh, yang berkorelasi dengan jam kerja yang lebih panjang.

Meskipun demikian, ada studi lain yang menunjukkan bahwa AI sebenarnya mampu menghemat waktu. Sebuah survei global menunjukkan rata-rata karyawan menghemat sekitar satu jam per hari berkat AI, yang dapat digunakan untuk pekerjaan lebih kreatif atau strategis. Namun, manfaat ini seringkali terhalang oleh tantangan implementasi. Survei lain menunjukkan hampir separuh karyawan (47%) merasa tidak tahu cara menggunakan AI untuk memenuhi ekspektasi produktivitas atasan mereka. Selain itu, banyak pekerja harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk meninjau, memoderasi, atau mempelajari cara menggunakan konten yang dihasilkan AI, yang akhirnya menambah beban kerja keseluruhan.

Kondisi ini menciptakan paradoks di mana perusahaan dan konsumen menikmati sebagian besar keuntungan dari peningkatan produktivitas AI, sementara pekerja menanggung beban jam kerja yang lebih panjang dan kepuasan kerja yang menurun, meskipun dalam beberapa kasus dikaitkan dengan upah yang lebih tinggi. Untuk benar-benar memanfaatkan kekuatan AI, perusahaan perlu mengubah cara kerja, meningkatkan pelatihan, dan memastikan manfaat efisiensi juga dinikmati oleh tenaga kerjanya.

Login IG