Teknologi

Riset: Bukan Meringankan, AI Malah Tambah Jam Kerja Karyawan.

Riset terbaru menemukan bahwa AI tidak meringankan beban, melainkan menambah 2,2 hingga 3,15 jam kerja per minggu bagi karyawan, didorong oleh insentif produktivitas dan pengawasan kerja.

JAKARTA · Sunday, 26 October 2025 18:00 WITA · Dibaca: 51
Riset: Bukan Meringankan, AI Malah Tambah Jam Kerja Karyawan.

JAKARTA, JClarity – Ekspektasi bahwa Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi 'asisten' yang meringankan beban kerja dan mengurangi jam kerja harian para karyawan justru terbalik. Sebuah riset terbaru mengungkapkan temuan mengejutkan: alih-alih memberikan waktu luang, adopsi AI secara signifikan justru menambah durasi jam kerja mingguan bagi pekerja di berbagai sektor.

Studi yang dilakukan oleh Center for Economic and Policy Research (CEPR), serta penelitian independen oleh sekelompok ekonom yang menganalisis data American Time Use Survey (ATUS) dari 2004 hingga 2023, menunjukkan tren yang bertentangan dengan prediksi historis, seperti prediksi ekonom John Keynes pada tahun 1930 bahwa produktivitas tinggi akan memungkinkan orang bekerja hanya 15 jam per minggu.

Temuan utama riset tersebut menyoroti bahwa pekerja dalam pekerjaan yang terpapar intensitas AI lebih tinggi mengalami peningkatan jam kerja mingguan. Secara umum, peningkatan paparan AI setara dengan penambahan sekitar 2,2 jam kerja per minggu. Dampak ini bahkan menjadi lebih nyata setelah munculnya teknologi AI generatif (Generative AI) seperti ChatGPT. Pekerja yang sangat terpapar pada AI generatif tercatat mengalami peningkatan jam kerja sekitar 3,15 jam per minggu dibandingkan dengan pekerjaan yang kurang terpapar.

Kenaikan jam kerja ini juga disertai dengan penurunan waktu luang yang mencolok, terutama untuk aktivitas non-layar seperti hiburan dan bersosialisasi. Para peneliti mengidentifikasi dua mekanisme utama yang mendorong perpanjangan jam kerja ini. Pertama, peningkatan produktivitas yang dihasilkan oleh AI justru menciptakan insentif bagi perusahaan—dan seringkali pekerja itu sendiri—untuk bekerja lebih lama, karena setiap jam kerja kini menghasilkan nilai yang lebih besar. Kedua, AI juga digunakan dalam pengawasan pekerja (surveillance) yang lebih ketat, terutama untuk pekerja jarak jauh (remote workers), untuk menegakkan produktivitas yang lebih tinggi.

Profesor Keuangan dari Universitas Emory, Wei Jiang, salah satu peneliti, mengatakan bahwa meskipun AI menghasilkan peningkatan produktivitas, manfaat dari peningkatan tersebut sebagian besar dinikmati oleh konsumen dan perusahaan, bukan oleh sebagian besar tenaga kerja. "Pekerja dalam pekerjaan dengan paparan AI yang lebih tinggi mengalami peningkatan signifikan dalam jam kerja dan penurunan waktu luang menyusul diperkenalkannya ChatGPT," ujar Jiang.

Fenomena ini menunjukkan adanya 'kesenjangan persepsi' antara harapan terhadap teknologi dan realitas penerapannya di lapangan. Meskipun AI diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan membantu pekerja fokus pada tugas yang lebih strategis, dalam praktiknya, hasil dari efisiensi tersebut justru diubah menjadi tuntutan waktu kerja yang lebih banyak untuk meningkatkan output perusahaan.

Login IG