Profit Taking dan Bayang-bayang The Fed Bikin IHSG Ambruk 1,2% ke 7.150: Saham Bank Jumbo Tertekan
IHSG ambruk 1,2% ke 7.150 karena profit taking dan bayang-bayang The Fed yang hawkish. Saham Bank Jumbo jadi penekan utama. Analis: 7.150 level kritis.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari ini dengan koreksi tajam, ambruk 1,2% atau setara 86 poin, dan parkir di level 7.150. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh dua faktor utama: aksi ambil untung (profit taking) investor di tengah sentimen negatif global, utamanya kekhawatiran yang kian membayangi terkait kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Sentimen negatif global didominasi oleh spekulasi pasar mengenai potensi The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama (higher for longer). Kekhawatiran ini meningkat menyusul rilis data inflasi dan pasar tenaga kerja AS yang tetap solid, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield) tenor 10 tahun. Kenaikan yield ini secara tradisional memicu eksodus modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menekan nilai tukar Rupiah dan pasar saham domestik.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar, yang dikenal sebagai 'Bank Jumbo', menjadi penekan utama laju IHSG hari ini. Saham-saham seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) kompak mengalami koreksi. Aksi jual masif, khususnya dari investor asing yang mencatatkan net sell signifikan, banyak menyasar saham-saham perbankan yang dinilai telah mencapai valuasi premium.
Analis pasar dari JClarity Research mencatat bahwa level 7.150 saat ini menjadi level psikologis penting. Apabila tekanan jual terus berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support kritis berikutnya di kisaran 7.100. Koreksi ini dianggap sebagai konsolidasi wajar setelah IHSG sempat menguat dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya, namun besarnya persentase pelemahan menunjukkan tingkat kecemasan investor yang tinggi.
Volume dan nilai transaksi perdagangan hari ini terbilang lesu, menandakan minimnya daya beli yang masuk untuk menahan laju penurunan. Investor dihimbau untuk tetap mencermati hasil dari pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed yang akan datang, serta rilis data-data ekonomi domestik. Kehati-hatian dalam memilih saham, terutama di sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan nilai tukar, menjadi kunci di tengah volatilitas pasar yang diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun.