Penyebab Saham BMRI Tiba-tiba Anjlok di Tengah Koreksi IHSG Pasca-Rekor Tertinggi 8.602
Saham Bank Mandiri (BMRI) anjlok 2,89% pada 27 November 2025 dipicu aksi jual asing masif (net sell Rp 144,1 Miliar) di tengah koreksi IHSG pasca-rekor 8.602.
Jakarta, JClarity – Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), salah satu emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar, mengalami tekanan jual signifikan pada sesi I perdagangan hari Kamis, 27 November 2025. Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.602.
Hingga pertengahan hari, harga saham BMRI tercatat merosot tajam sebesar 2,89%, sempat menyentuh level Rp 4.880 per saham. Penurunan mendadak ini menjadikan BMRI salah satu top losers di Indeks LQ45 dan turut memperberat laju IHSG yang pagi ini ambruk ke level 8.557, meninggalkan level psikologis 8.600.
Penyebab utama anjloknya saham BMRI adalah dorongan aksi jual yang masif, terutama dari investor asing. Data transaksi menunjukkan bahwa saham Bank Mandiri membukukan nilai net sell (jual bersih) tertinggi kedua di antara saham-saham big caps, mencapai Rp 144,1 miliar. Aksi jual agresif ini mengindikasikan bahwa investor, baik domestik maupun asing, mengambil tindakan profit taking (ambil untung) setelah reli kuat yang terjadi pada beberapa pekan sebelumnya.
Analis melihat bahwa koreksi ini merupakan reaksi wajar pasar terhadap volatilitas setelah IHSG mencetak rekor. Sentimen global yang tidak menentu, ditambah momentum mengambil untung, seringkali menekan saham-saham blue chip seperti perbankan yang memiliki bobot besar dalam perhitungan indeks. Bahkan, sentimen positif terbaru, seperti rencana buyback saham oleh perbankan Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) atau injeksi likuiditas negara senilai Rp76 triliun pada November 2025, gagal meredam tekanan jual hari ini.
Meskipun terjadi koreksi harga, beberapa sekuritas masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham BMRI. Samuel Sekuritas, misalnya, mempertahankan rekomendasi 'Beli' dengan target harga Rp 5.100. Keyakinan ini didukung oleh estimasi bahwa fundamental BMRI, termasuk potensi pemulihan Net Interest Margin (NIM) dan rasio pencadangan yang kuat, tetap solid di tengah dinamika pasar. Bagi investor jangka menengah hingga panjang, koreksi ini justru bisa dilihat sebagai peluang untuk mengakumulasi saham dengan valuasi yang lebih menarik.