Pakar Ungkap Sisi Gelap AI: Bikin Ransomware Cuma 15 Menit
AI generatif memicu ancaman siber baru. Pakar ungkap sisi gelap kecerdasan buatan, memungkinkan pembuatan skrip ransomware kompleks hanya dalam waktu 15 menit.
Jakarta, JClarity – Dunia keamanan siber diguncang oleh peringatan serius mengenai potensi revolusi kejahatan siber yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI). Pakar mengungkapkan bahwa AI dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan penjahat untuk merakit perangkat lunak pemeras (ransomware) dari hitungan hari menjadi hanya dalam 15 menit.
Country Manager Palo Alto Networks Indonesia, Adi Rusli, dalam sebuah forum di Jakarta, memaparkan bagaimana peran Generative AI telah mengubah lanskap ancaman siber secara fundamental. Ia menyebutkan, sekitar empat tahun lalu, pelaku kejahatan siber membutuhkan waktu hingga sembilan hari untuk mengembangkan satu varian ransomware. Namun, dengan akselerasi yang ditawarkan AI, waktu tersebut saat ini telah terpangkas signifikan, dan diproyeksikan hanya akan memerlukan 15 menit pada tahun 2026 mendatang. Selain pengembangan *malware*, kecepatan serangan siber di fase lain juga meningkat drastis: waktu untuk menyusup dan mencuri data diperkirakan akan turun menjadi 20 menit pada 2026, dari yang sebelumnya memakan waktu sembilan hari. Sementara itu, eksploitasi kerentanan yang dulunya memakan waktu hingga sembilan minggu kini diproyeksikan hanya membutuhkan kurang dari 60 menit.
Rusli menekankan bahwa pemanfaatan AI oleh penjahat tidak hanya meningkatkan kecepatan, tetapi juga variasi dan kompleksitas serangan, di mana 70 persen insiden siber saat ini menyerang minimal tiga titik permukaan serangan (*attack surface*) secara bersamaan. Kemampuan *Large Language Model* (LLM) untuk menghasilkan konten *phishing* yang meyakinkan, membuat *deepfake*, dan membuat kode berbahaya secara instan, secara efektif telah menurunkan hambatan teknis bagi pelaku kejahatan siber pemula. Kondisi ini mendesak perusahaan dan pemerintah untuk segera mengadopsi solusi keamanan berbasis AI defensif yang lebih canggih guna menjembatani kesenjangan antara kecepatan serangan dan kemampuan mitigasi, seiring dengan makin terdemokratisasinya kejahatan siber.