Teknologi

**OpenAI dan Mimpi Membuat Musik dari Prompt AI: Era Baru Kreativitas Digital?**

Mengeksplorasi ambisi OpenAI dalam menciptakan musik dari prompt teks. Setelah Sora dan DALL-E, apakah AI musik dari OpenAI akan mengubah peta kreativitas digital dan menantang Suno?

JAKARTA · Monday, 27 October 2025 18:00 WITA · Dibaca: 44
**OpenAI dan Mimpi Membuat Musik dari Prompt AI: Era Baru Kreativitas Digital?**

JAKARTA, JClarity – Setelah mendefinisikan ulang industri teks melalui ChatGPT dan industri video melalui Sora, OpenAI kini dikabarkan tengah mengalihkan fokusnya pada domain kreatif berikutnya: generasi musik berbasis Kecerdasan Buatan (AI). Impian untuk menciptakan komposisi musik orisinal secara lengkap, hanya dari deskripsi teks sederhana (prompt), tampaknya semakin mendekati kenyataan, memicu pertanyaan besar tentang potensi era baru kreativitas digital.

Laporan terbaru mengindikasikan bahwa OpenAI sedang mempercepat pengembangan model AI musik yang dapat menyaingi platform yang sudah ada di pasar seperti Suno dan Udio. Langkah ini merupakan kelanjutan dari strategi perusahaan untuk membangun ekosistem AI yang lebih komprehensif, di mana pengguna dapat menghasilkan konten mulai dari teks, video, hingga musik, semuanya melalui satu platform terpadu.

Untuk memastikan kualitas dan mengatasi tantangan data, OpenAI dikabarkan telah menjalin kolaborasi dengan mahasiswa dari The Juilliard School. Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk menganotasi skor musik yang akan berfungsi sebagai data pelatihan berkualitas tinggi bagi model AI yang baru. Model yang sedang dikembangkan ini diharapkan mampu menghasilkan jalur suara (soundtrack) atau iringan musik melalui prompt teks atau audio, misalnya menambahkan iringan gitar pada trek vokal yang sudah ada.

Secara historis, upaya OpenAI di bidang musik bukanlah hal baru. Pada tahun 2020, perusahaan ini merilis Jukebox, sebuah jaringan neural yang mampu menghasilkan audio mentah termasuk nyanyian kasar (rudimentary singing) berdasarkan genre, artis, dan lirik. Namun, Jukebox, yang merupakan proyek penelitian murni, memiliki keterbatasan signifikan dari sisi kualitas audio dan kebutuhan komputasi yang tinggi, sehingga tidak pernah diintegrasikan ke dalam produk publik seperti ChatGPT atau Sora.

Kini, persaingan di pasar AI musik semakin memanas. Startup seperti Suno, yang telah merilis model mutakhir (seperti Suno v3) dan mampu menghasilkan lagu berdurasi penuh dua menit dengan kualitas audio yang jauh lebih baik, memimpin dalam aspek aksesibilitas pengguna. Sementara itu, raksasa teknologi lain seperti Google juga telah memperkenalkan model MusicLM dan Lyria, yang ditujukan untuk sektor komersial. Kehadiran OpenAI dengan sumber daya dan basis pengguna globalnya (lebih dari 800 juta pengguna) diprediksi akan mengubah peta persaingan secara drastis.

Meskipun potensi demokratisasi produksi musik—memungkinkan siapa pun menjadi komposer—sangat besar, munculnya teknologi ini kembali mengangkat isu krusial terkait Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan etika. Kolaborasi OpenAI dengan Juilliard mengisyaratkan upaya untuk membangun model yang sah secara etis. Namun, tantangan utama tetap pada kemampuan AI untuk menangkap nuansa emosi, orisinalitas, dan struktur komposisi musik jangka panjang yang kompleks. Saat pengembangan terus berlanjut, mimpi OpenAI ini tidak hanya menjanjikan alat baru bagi musisi, tetapi juga meresmikan babak baru yang tak terhindarkan dalam evolusi konten digital.

Login IG