Mahasiswa UNEJ Membuat Rekayasa Kapal Pintar Tanpa Awak Berbasis AI, Solusi Awasi Laut Indonesia Ramah Lingkungan
Mahasiswa UNEJ ciptakan Guardian of The Sea, kapal pintar tanpa awak bertenaga surya berbasis AI dan Blockchain untuk mengawasi laut Indonesia dari illegal fishing dan polusi.
JEMBER, JClarity – Sekelompok mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) berhasil menciptakan inovasi teknologi maritim yang berpotensi menjadi solusi fundamental dalam mengatasi masalah pengawasan laut Indonesia. Inovasi yang diberi nama ‘Guardian of The Sea’ ini merupakan rekayasa kapal patroli pintar tanpa awak (Unmanned Surface Vessel/USV) yang mengintegrasikan sistem Kecerdasan Buatan (AI) dan didukung sumber energi terbarukan, menjadikannya pilihan pengawasan yang ramah lingkungan.
Proyek yang digagas oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) UNEJ ini lahir dari keprihatinan atas luasnya wilayah perairan Indonesia yang rentan terhadap aktivitas ilegal seperti illegal fishing, pencemaran, dan lemahnya pengawasan di daerah terpencil. Dengan lautan yang mencakup dua pertiga wilayah negara, pengawasan konvensional seringkali terlambat dan baru mengetahui kasus setelah kerusakan terjadi.
Kapal Guardian of The Sea dirancang untuk beroperasi secara otonom, memantau aktivitas laut tanpa henti. Fitur kuncinya terletak pada integrasi teknologi canggih. Kapal ini dilengkapi dengan sensor pintar dan kamera pengintai yang bekerja menggunakan sistem Artificial Intelligence (AI). AI berfungsi untuk mendeteksi pergerakan mencurigakan di perairan secara real-time, memungkinkan pihak berwenang mengambil keputusan intervensi lebih cepat.
Aspek keberlanjutan lingkungan menjadi poin unggul dari inovasi ini. Untuk menjamin operasional yang efisien dan minim jejak karbon, kapal patroli tanpa awak ini ditenagai sepenuhnya oleh panel surya. Penggunaan energi matahari memungkinkan kapal beroperasi dalam jangka waktu yang lebih lama tanpa ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ini tidak hanya menekan biaya operasional secara signifikan, tetapi juga mendukung komitmen Indonesia terhadap pembangunan maritim berkelanjutan.
Selain AI, sistem pengamanan data juga diperkuat. Seluruh data hasil pemantauan—mulai dari citra visual hingga koordinat pergerakan—disimpan menggunakan teknologi blockchain. Penggunaan blockchain memastikan bahwa data yang terekam aman, transparan, dan tidak dapat dimanipulasi, menjadikannya alat bukti yang valid dalam penegakan hukum di laut.
Tim mahasiswa yang terlibat dalam proyek ini adalah Nugroho Tri Purnomo, Farrel Satyatma Waliyyin Yustaf, Risky Adwitiya Anggara, Yora Serena br. Nainggolan, dan Jermia Edonie, dengan bimbingan dosen Ir. Indah Ibanah, S.P., M.Si. Inovasi Guardian of The Sea telah mendapatkan pengakuan berupa Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Universitas Jember. Para kreator berharap gagasan ini dapat segera diimplementasikan sebagai langkah nyata untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan kebersihan laut Indonesia bagi generasi mendatang.