Kemenkes Luncurkan Teknologi Quantoom untuk Gencarkan Inovasi Vaksin mRNA Nasional
Kemenkes meluncurkan teknologi Quantoom untuk mengakselerasi inovasi vaksin mRNA nasional, memperkuat ketahanan kesehatan, dan mengembangkan vaksin penyakit endemik.
JAKARTA, JClarity – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia secara resmi meluncurkan teknologi mutakhir dari Quantoom, sebuah langkah strategis untuk mengakselerasi inovasi dalam pengembangan vaksin berbasis messenger RNA (mRNA) dan produk biologi lainnya, sebagai upaya konkret penguatan ketahanan kesehatan nasional.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, di Jakarta pada Selasa (2/12) waktu setempat, menegaskan bahwa penguasaan teknologi mRNA merupakan fondasi krusial dalam kesiapsiagaan menghadapi potensi pandemi di masa depan. Menurutnya, teknologi ini memungkinkan produksi vaksin dalam jumlah besar secara cepat, menjadikannya komponen strategis dalam transformasi kesehatan nasional, khususnya pilar ketiga yang berfokus pada ketahanan farmasi dan alat kesehatan.
Mesin yang diluncurkan, yakni Ntensify mini dari Quantoom Biosciences, akan ditempatkan di fasilitas PT Bio Farma. Ntensify mini sendiri merupakan produk yang dirancang untuk mendukung riset dan produksi RNA. Inisiatif ini juga didukung oleh pendanaan dan kolaborasi global, termasuk dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) sebesar 15 juta dolar AS, yang sebagian dialokasikan untuk pembelian teknologi mRNA Quantoom Ntensify mini dan midi.
Pengembangan ini tidak hanya bertujuan untuk kesiapsiagaan pandemi. Lebih jauh, teknologi mRNA juga diproyeksikan untuk pengembangan vaksin bagi berbagai penyakit, termasuk penyakit endemik di Asia Tenggara seperti malaria, demam berdarah (dengue), tuberkulosis (TBC), dan rabies. Selain itu, vaksin untuk penyakit seperti chikungunya, nipah, hingga disease X—patogen tak dikenal yang berpotensi memicu pandemi—juga menjadi target inovasi.
Indonesia, melalui Bio Farma, telah diakui dalam peta jalan global penguasaan teknologi ini, setelah ditunjuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021 untuk program transfer teknologi mRNA dan oleh CEPI pada tahun 2023 untuk kolaborasi di tingkat Global South. Kemenkes dan Bio Farma berkomitmen untuk terus mendiseminasikan teknologi ini dan memperkuat kolaborasi internasional.
“Penyiapan infrastruktur riset dan manufaktur ini penting untuk membangun kesiapsiagaan kita. Harapannya ke depannya, selain untuk ketahanan di dalam negeri, kita juga dapat berkontribusi di tatanan global dalam penyediaan vaksin dan perbekalan kesehatan, khususnya dengan teknologi-teknologi yang baru,” ujar Dirjen Lucia Rizka. Penguasaan teknologi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam produksi vaksin berteknologi tinggi di Asia Tenggara.