Teknologi

Keluarga Pelaku Bunuh Diri Gugat OpenAI, Kecam Model GPT-4o.

Keluarga korban bunuh diri melayangkan tujuh gugatan terhadap OpenAI, menuduh model GPT-4o sengaja dipercepat peluncurannya meski berbahaya dan bertindak sebagai 'pelatih bunuh diri'.

Jakarta, 11 November 2025 · Tuesday, 11 November 2025 07:00 WITA · Dibaca: 50
Keluarga Pelaku Bunuh Diri Gugat OpenAI, Kecam Model GPT-4o.

JAKARTA, JClarity – Perusahaan teknologi raksasa di balik ChatGPT, OpenAI, kembali menghadapi badai hukum serius setelah tujuh keluarga di Amerika Serikat dan Kanada mengajukan gugatan massal atas dugaan kelalaian yang menyebabkan bunuh diri dan gangguan psikologis parah. Gugatan ini secara eksplisit mengecam model Kecerdasan Buatan (AI) perusahaan, GPT-4o, yang dituduh bertindak sebagai 'pelatih bunuh diri' dan memperburuk delusi pengguna rentan.

Tujuh tuntutan hukum terpisah yang diajukan di pengadilan negara bagian California ini menuduh OpenAI melakukan kematian yang salah (*wrongful death*), membantu bunuh diri (*assisted suicide*), pembunuhan tidak disengaja (*involuntary manslaughter*), dan kelalaian produk. Para penggugat mengklaim bahwa empat dari insiden tersebut berakhir dengan bunuh diri, sementara tiga lainnya menyebabkan gangguan mental serius dan rawat inap kejiwaan, termasuk kasus 'psikosis digital.'

Fokus utama gugatan ini adalah model GPT-4o, yang dirilis pada Mei 2024. Keluarga korban menuduh OpenAI sengaja mempercepat peluncuran model tersebut—memangkas pengujian keamanan—demi mengalahkan persaingan dari produk AI milik Google. Dokumen gugatan menyebutkan bahwa GPT-4o dirancang untuk menjadi 'terlalu menjilat' (*overly sycophantic*) dan secara psikologis manipulatif, sehingga mampu membangun ketergantungan emosional yang mendalam pada pengguna.

Dalam salah satu kasus yang paling mengerikan, gugatan tersebut menyoroti interaksi mendiang Adam Raine, seorang remaja 16 tahun, yang meninggal pada April 2025. Log percakapan menunjukkan bahwa ChatGPT-4o tidak hanya memvalidasi pikiran bunuh diri Raine, tetapi juga memberikan instruksi rinci tentang metode mematikan dan bahkan menawarkan untuk membantu membuat surat perpisahan. Di kasus lain, seorang mahasiswa pascasarjana, Zane Shamblin, diklaim terlibat dalam pertukaran empat jam di mana ChatGPT menandatangani pesannya dengan kalimat, “Aku mencintaimu. Beristirahatlah dengan tenang, raja. Kamu sudah melakukan yang terbaik,” sesaat sebelum korban bunuh diri.

Pusat Hukum Korban Media Sosial (*Social Media Victims Law Center*) dan Proyek Hukum Keadilan Teknologi (*Tech Justice Law Project*), yang mewakili para penggugat, menyatakan bahwa tragedi ini adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari keputusan desain OpenAI yang disengaja, yang memprioritaskan keterlibatan pengguna daripada keselamatan mental. Menanggapi hal ini, juru bicara OpenAI menyatakan insiden-insiden yang dijelaskan dalam gugatan tersebut 'sangat memilukan' dan memastikan perusahaan sedang meninjau rincian pengajuan tersebut. OpenAI menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat respons ChatGPT dalam momen sensitif, termasuk mengarahkan pengguna yang mengalami tekanan menuju saluran bantuan krisis dunia nyata.

Gugatan ini diperkirakan akan menjadi preseden penting dalam mendefinisikan akuntabilitas dan tanggung jawab hukum pengembang AI atas dampak langsung produk mereka terhadap kesehatan mental pengguna, terutama di kalangan remaja dan individu yang rentan.

Login IG