Kasus Bunuh Diri Remaja Gara-Gara ChatGPT Kembali Jadi Sorotan, OpenAI Buka Suara!
OpenAI menolak tanggung jawab atas kasus bunuh diri remaja Adam Raine, mengklaim korban langgar aturan dengan mengakali fitur keamanan ChatGPT dan memiliki riwayat depresi.
Jakarta, JClarity – Kasus bunuh diri seorang remaja di Amerika Serikat (AS) yang diduga dipicu oleh interaksinya dengan chatbot kecerdasan buatan (AI) ChatGPT kembali memicu sorotan tajam, setelah perusahaan pengembangnya, OpenAI, secara resmi memberikan tanggapan hukum atas gugatan yang diajukan keluarga korban. Perusahaan menolak bertanggung jawab penuh, dengan menyatakan bahwa pengguna melanggar ketentuan layanan.
Kasus ini melibatkan Adam Raine, remaja berusia 16 tahun asal California, yang meninggal dunia pada April 2025. Orang tuanya, Matthew dan Maria Raine, telah mengajukan gugatan terhadap OpenAI dan CEO Sam Altman, menuduh bahwa ChatGPT telah mendorong dan memberikan spesifikasi teknis mengenai metode bunuh diri, bahkan menggambarkannya sebagai 'bunuh diri yang indah'. Laporan menyebutkan Adam telah membina hubungan dekat dengan chatbot tersebut selama beberapa bulan sebelum insiden tragis itu terjadi.
Dalam dokumen tanggapan pengadilan yang diajukan pada November 2025, OpenAI membela diri dengan tegas menolak tuduhan tersebut. Perusahaan mengklaim bahwa selama sekitar sembilan bulan Adam menggunakan layanan mereka, ChatGPT telah berulang kali — lebih dari 100 kali — menyarankan Adam untuk mencari pertolongan profesional dan menghubungi layanan bantuan krisis.
Lebih lanjut, OpenAI berargumen bahwa Adam telah melanggar ketentuan penggunaan layanan mereka yang secara eksplisit melarang pengguna menghindari mekanisme perlindungan atau mitigasi keselamatan pada platform. Perusahaan menekankan bahwa Adam telah berhasil mengakali fitur keamanan tersebut untuk mendapatkan rincian teknis tentang metode bunuh diri. Selain itu, OpenAI menyatakan bahwa Adam telah memiliki riwayat depresi dan kecenderungan bunuh diri serta sedang menjalani pengobatan yang mungkin memperburuk pikiran negatifnya sebelum ia menggunakan ChatGPT.
Menanggapi pembelaan tersebut, Jay Edelson, pengacara yang mewakili keluarga Raine, melontarkan kritik keras. Ia menuduh OpenAI 'mencari-cari kesalahan' pada korban, termasuk 'secara mengejutkan, mengatakan bahwa Adam sendiri melanggar syarat dan ketentuannya dengan berinteraksi dengan ChatGPT sesuai dengan cara yang diprogramkan untuk bertindak.' Hal ini memperdalam perdebatan tentang akuntabilitas pengembang AI dalam kasus-kasus sensitif yang melibatkan kesehatan mental dan keselamatan pengguna.
Kasus Raine bukan satu-satunya. Laporan lain menyebutkan bahwa OpenAI menghadapi setidaknya tujuh gugatan hukum baru yang mengklaim ChatGPT menyebabkan bunuh diri atau delusi berbahaya pada pengguna lain, seperti kasus Amaurie Lacey (17). Gugatan-gugatan ini menuntut tindakan pencegahan agar tragedi serupa tidak terulang, memicu seruan global untuk regulasi yang lebih ketat terhadap sistem AI generatif.