Saham

JP Morgan Terawang Peluang IHSG 10.000, Ini Faktor Pendorongnya

JP Morgan proyeksikan IHSG berpeluang tembus 10.000 di 2026. Faktor pendorong utamanya adalah belanja pemerintah, peran Danantara, dan pelonggaran moneter BI. [160 karakter]

Jakarta · Wednesday, 03 December 2025 16:00 WITA · Dibaca: 27
JP Morgan Terawang Peluang IHSG 10.000, Ini Faktor Pendorongnya

JAKARTA, JClarity – Bank investasi global terkemuka, J.P. Morgan, merilis prospek optimistis untuk pasar saham Indonesia, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menembus level psikologis 10.000 pada akhir tahun 2026 dalam skenario 'bull case' atau paling optimistis. Proyeksi fundamental tersebut didukung oleh kombinasi faktor fiskal yang kuat, pelonggaran moneter, serta peran katalis dari lembaga investasi baru Danantara.

Dalam laporan riset terbarunya bertajuk 'Indonesia Equity 2026 Outlook', J.P. Morgan menetapkan target dasar (base case) IHSG di level 9.100 atau 9.200 pada akhir 2026, yang didasarkan pada asumsi pertumbuhan laba per saham (EPS) emiten sebesar 8% dan kelipatan valuasi Price to Earnings Ratio (P/E) 15 kali. Sementara itu, untuk skenario pesimistis (bear case), indeks diproyeksikan berada di level 7.800.

Analis J.P. Morgan, Henry Wibowo, menyebutkan bahwa prospek pasar ekuitas Indonesia diprediksi akan jauh lebih cerah setelah melewati tahun transisi politik pada 2025. Terdapat tiga pilar utama yang menjadi motor penggerak pergerakan IHSG menuju level 10.000.

Faktor Pendorong Utama: Dorongan Fiskal dan Katalis Danantara

Faktor pertama adalah peningkatan aktivitas belanja pemerintah. J.P. Morgan meyakini belanja pemerintah yang lebih tinggi, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun penyaluran dana melalui lembaga investasi Danantara, akan menjadi pendorong utama pemulihan ekonomi dan konsumsi domestik. Danantara, khususnya, dinilai sebagai katalis penting yang berpotensi memicu *re-rating* valuasi pasar saham Tanah Air.

Peran Danantara dianggap krusial karena memiliki independensi dari anggaran fiskal untuk menghimpun pendanaan eksternal, menyalurkan investasi, dan menjalankan belanja guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Kejelasan pemisahan fungsi antara holding (BPI Danantara), pengelolaan aset (DAM), dan manajemen investasi (DIM) akan memperkuat perannya di pasar.

Faktor kedua adalah berlanjutnya tren pelonggaran kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) pada tahun 2026, seiring dengan membaiknya likuiditas sistem dan defisit transaksi berjalan yang diprediksi tetap terkendali di bawah 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Faktor ketiga adalah pemulihan laba emiten serta kondisi makro global. J.P. Morgan memproyeksikan laba pasar akan pulih sebesar 8% di tahun 2026, ditopang oleh prospek konsumsi domestik yang lebih kuat. Selain itu, kondisi makro global yang membaik dan meredanya ketegangan geopolitik turut menopang sentimen positif di pasar domestik. Partisipasi investor ritel domestik, yang mencapai rekor tertinggi pada paruh kedua 2025, juga diperkirakan akan tetap kuat hingga semester pertama 2026.

Untuk memanfaatkan prospek cerah ini, J.P. Morgan merekomendasikan investor untuk menambah porsi (overweight) pada saham-saham di sektor Material, Barang Konsumsi (Staples dan Discretionary), Industri, dan Properti. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko utama yang dapat menahan laju IHSG, yakni volatilitas nilai tukar Rupiah.

Login IG