Istana Ungkap GOTO-Grab Bakal Merger, Sahamnya Terbang 8,20%
Istana mengungkapkan potensi merger GOTO-Grab disambut baik pemerintah. Kabar ini membuat saham GOTO terbang 8,20% di Bursa Efek Indonesia hari ini.
JAKARTA, JClarity – Pasar modal Indonesia hari ini diguncang oleh kabar mengejutkan mengenai potensi merger raksasa teknologi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab Holdings Ltd (Grab). Isu konsolidasi ini, yang telah lama menjadi spekulasi, kini mendapatkan konfirmasi tak terduga dari pihak Istana Kepresidenan, memicu respons euforia di lantai bursa. Saham GOTO langsung melonjak tajam, mengakhiri perdagangan dengan kenaikan impresif sebesar 8,20%.
Kenaikan signifikan saham GOTO terjadi segera setelah pernyataan yang dikeluarkan oleh salah satu Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, yang mengisyaratkan bahwa pemerintah menyambut baik potensi konsolidasi antara dua pemain utama dalam ekosistem digital Asia Tenggara tersebut. 'Kami melihat langkah ini sebagai upaya peningkatan efisiensi dan daya saing global. Pemerintah akan memonitor dengan cermat namun pada prinsipnya mendukung penguatan entitas teknologi nasional,' ujar sumber Istana yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham GOTO (IDX: GOTO) ditutup di level RpXX per lembar, setelah sempat menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) di sesi perdagangan pagi. Lonjakan harga ini mencerminkan optimisme investor terhadap sinergi bisnis yang dihasilkan dari penggabungan dua platform super app terbesar di kawasan ini. Analis memperkirakan merger ini berpotensi mengurangi biaya operasional yang tumpang tindih dan membuka jalan bagi dominasi pasar yang lebih besar.
Meskipun pihak manajemen GOTO dan Grab masih enggan memberikan komentar resmi secara detail, laporan internal menyebutkan bahwa diskusi intensif telah dilakukan dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh kebutuhan untuk mencapai profitabilitas yang lebih cepat di tengah kondisi pasar global yang menantang. Merger ini diperkirakan akan menciptakan entitas dengan valuasi gabungan yang fantastis, mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan dominan di sektor ride-hailing, e-commerce, dan layanan keuangan digital.
Kendati demikian, rencana merger ini tidak lepas dari tantangan, terutama terkait isu regulasi dan persaingan usaha. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dipastikan akan menyoroti secara ketat dampak konsolidasi ini terhadap monopoli pasar dan potensi kerugian bagi konsumen maupun mitra pengemudi. Pasar kini menantikan detail resmi lebih lanjut dari kedua perusahaan dan kerangka waktu implementasi yang direncanakan.