Investasi Rp444 T, Konsorsium Jerman-AS Bangun Industri Semikonduktor di Batam.
Konsorsium Jerman-AS siap tanam investasi Rp444 triliun di Batam untuk industri semikonduktor, hilirisasi silika, dan kaca. Konstruksi ditargetkan mulai awal 2026.
BATAM, JClarity – Konsorsium perusahaan multinasional dari Amerika Serikat dan Jerman siap memulai pembangunan fasilitas industri strategis di Batam, Kepulauan Riau, dengan total nilai investasi yang fantastis, mencapai US$ 26 miliar atau sekitar Rp444 triliun (kurs Rp16.625/US$). Langkah ini bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur strategis dalam rantai pasok semikonduktor dan teknologi tinggi global.
Konsorsium tersebut terdiri dari PT Quantum Luminous Indonesia (QLI), PT Terra Mineral Nusantara, dan Tynergy Group (PT Energy Tech Indonesia serta PT Essence Global Indonesia). Fasilitas produksi berencana dibangun di kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) Wiraraja Green Renewable Energy and Smart-Eco Industrial Park (GESEIP) di Pulau Galang, Batam.
Group President Director PT QLI, Walter William Grieves, menyatakan bahwa proyek ini akan mencakup pembangunan pabrik semikonduktor, fasilitas hilirisasi pasir silika, manufaktur kaca berteknologi tinggi, serta lini produksi solar cell dan wafer. Konsorsium menargetkan untuk memulai konstruksi tahap pertama pada awal tahun 2026, setelah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengusahaan Batam (BP Batam).
Rencana investasi kakap ini berawal dari pertemuan intensif saat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Bali pada tahun 2022, yang kemudian diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada pameran industri terbesar dunia, Hannover Messe 2023, di Jerman. Komitmen tersebut bertujuan untuk mendukung penguatan rantai pasok global industri semikonduktor dan program hilirisasi sumber daya alam Indonesia.
Mengingat statusnya sebagai PSN, pihak konsorsium terus mengupayakan percepatan finalisasi proses perizinan yang diperlukan untuk memastikan kepastian investasi, kesiapan rantai pasok, penyerapan tenaga kerja lokal, dan transfer teknologi. Menanggapi desakan ini, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa perizinan berusaha di Batam memiliki otoritas tersendiri di bawah kewenangan BP Batam karena merupakan kawasan ekonomi khusus.
Pembangunan fasilitas industri semikonduktor di Pulau Galang ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Konsorsium menargetkan proyek ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen pada tahun 2029.