Teknologi

Ini Modus Penipuan AI Deepfake dan Voice Cloning yang Lagi Ganas, Awas Rekening Ludes!

Waspada modus penipuan AI Deepfake dan Voice Cloning yang lagi ganas di Indonesia. Satgas PASTI sebut modus tiruan suara dan wajah ini picu kerugian Rp7,8 T. Simak cara mencegahnya!

JAKARTA · Monday, 17 November 2025 05:00 WITA · Dibaca: 28
Ini Modus Penipuan AI Deepfake dan Voice Cloning yang Lagi Ganas, Awas Rekening Ludes!

JAKARTA, JClarity – Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat Indonesia terkait maraknya modus penipuan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian canggih, terutama melalui teknik deepfake dan voice cloning. Modus ini dinilai sangat ganas dan berpotensi menyebabkan kerugian finansial yang masif hingga membuat rekening korban ludes.

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi AI kini disalahgunakan oleh pelaku kejahatan untuk menciptakan tiruan yang sangat meyakinkan. Terdapat dua modus utama yang kini sedang marak dan menjadi perhatian serius otoritas: voice cloning (tiruan suara) dan deepfake (tiruan wajah).

Modus Voice Cloning menjadi salah satu yang paling cepat berkembang. Pelaku penipuan hanya membutuhkan rekaman suara singkat dari media sosial atau aplikasi pesan untuk kemudian meniru suara orang terdekat korban, seperti anggota keluarga, teman, atau kolega. Dengan suara yang sangat mirip, penipu akan menghubungi korban dan meyakinkan mereka bahwa sedang terjadi situasi darurat, misalnya kecelakaan atau kebutuhan dana mendesak, untuk kemudian meminta transfer uang atau informasi pribadi.

Sementara itu, modus Deepfake memanfaatkan teknologi AI untuk menghasilkan video palsu yang meniru wajah dan ekspresi seseorang secara akurat. Video ini kerap digunakan dalam skenario panggilan video palsu (vishing) atau disebarkan di media sosial, bahkan meniru tokoh publik atau pejabat, untuk menawarkan skema investasi palsu. Tujuannya adalah membangun tingkat kepercayaan korban, sehingga mereka yakin sedang berkomunikasi dengan pihak yang sah.

Laporan dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menunjukkan betapa seriusnya ancaman ini. Sejak beroperasi pada November 2024 hingga November 2025, IASC telah menerima lebih dari 343.000 laporan penipuan, dengan total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp 7,8 triliun. Kerugian triliunan rupiah ini menegaskan urgensi kewaspadaan publik terhadap kejahatan keuangan digital yang terus berevolusi.

Untuk mencegah agar tidak menjadi korban, Satgas PASTI mengimbau masyarakat untuk menerapkan tiga langkah pencegahan utama. Pertama, **selalu lakukan verifikasi informasi** jika menerima permintaan yang tidak biasa, terutama yang berkaitan dengan transfer uang atau data pribadi. Verifikasi harus dilakukan melalui saluran komunikasi lain yang terpisah dari yang digunakan penipu, misalnya menghubungi langsung via telepon rumah. Kedua, **jaga kerahasiaan data pribadi dan keuangan**; jangan pernah memberikan informasi sensitif kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi identitasnya. Ketiga, **waspadai kejanggalan** pada video atau suara yang terlihat atau terdengar tidak biasa, meskipun datang dari kontak yang dikenal.

Login IG