Indosat Jadi Jalur China Akses Chip Nvidia yang Diblokir AS.
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dituding menjadi perantara tidak langsung bagi startup China untuk mengakses 2.300 chip Nvidia Blackwell yang diblokir AS melalui skema cloud di Jakarta. IOH tegaskan patuh regulasi.
JAKARTA, JClarity – Sebuah laporan investigasi terbaru dari *The Wall Street Journal* (WSJ) mengungkap dugaan bahwa PT Indosat Tbk. (IOH) telah menjadi perantara tidak langsung bagi sebuah *startup* kecerdasan buatan (AI) asal Tiongkok, INF Tech, untuk mengakses ribuan unit chip AI canggih Nvidia Blackwell, yang sejatinya dilarang oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk dijual ke China.
Akses ini diperoleh melalui mekanisme penyewaan daya komputasi di pusat data Indosat di Jakarta. INF Tech dilaporkan berhasil memanfaatkan sekitar 2.304 unit chip GPU Nvidia Blackwell (seri GB200) yang terpasang pada 32 rak server milik Indosat. Nilai kesepakatan pembelian server oleh Indosat Ooredoo Hutchison dilaporkan mencapai sekitar US$100 juta (sekitar Rp1,6 triliun), dengan server-server tersebut telah terinstalasi di fasilitas Jakarta sejak Oktober 2025.
Skema transaksi ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang semakin memanas antara AS dan China, di mana Washington memberlakukan kontrol ekspor ketat sejak tahun 2022 terhadap semikonduktor AI paling mutakhir seperti Blackwell dan pendahulunya, H100/A100, untuk mencegah penggunaannya dalam aplikasi militer China. Laporan WSJ merunut alur, di mana Nvidia menjual chip tersebut kepada Aivres, mitra pembuat server AI yang berbasis di Silicon Valley. Aivres, meskipun merupakan perusahaan AS yang tidak masuk dalam daftar hitam, diketahui sebagian kepemilikannya dimiliki oleh Inspur, perusahaan teknologi China yang masuk dalam daftar hitam (Entity List) AS.
Indosat kemudian membeli 32 rak server GB200 tersebut dari Aivres, dengan kesepakatan diselesaikan setelah IOH mendapatkan komitmen kontrak dari INF Tech sebagai pengguna akhir layanan *cloud* jarak jauh. Meskipun chip Blackwell tidak boleh dijual langsung ke China, para pakar hukum berpendapat bahwa pengaturan ini, di mana perusahaan China hanya menyewa akses komputasi tanpa memiliki kontrol fisik atas perangkat keras, secara teknis tidak melanggar undang-undang kontrol ekspor AS saat ini.
Menanggapi laporan ini, CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menegaskan komitmen perusahaan terhadap kepatuhan regulasi. "Setiap pelanggan di luar Indonesia harus melalui regulasi yang sama, baik perusahaan AS maupun perusahaan China. Jika memenuhi semua peraturan, kami mendukungnya," ujar Sinha. Sementara itu, INF Tech, yang didirikan oleh Qi Yuan (warga negara AS kelahiran China dan profesor di Universitas Fudan), membantah terlibat dalam penelitian terkait militer dan menyatakan telah mematuhi kendali ekspor AS.
Kasus ini menyoroti celah signifikan dalam strategi kontrol teknologi AS, yang dikhawatirkan oleh beberapa pejabat keamanan nasional AS dapat dimanfaatkan oleh Beijing untuk memperkuat kemampuan AI-nya, terutama karena adanya kebijakan fusi sipil-militer di Tiongkok. Di sisi lain, hal ini menempatkan Indonesia, sebagai lokasi pusat data, pada posisi yang harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi digital dengan sensitivitas geopolitik global.