Saham

IHSG Tutup Pekan di Level Krusial 7.300: Saham BUMN Karya Melesat, Sektor Batu Bara Loyo.

IHSG tutup pekan di level krusial 7.300. Saham BUMN Karya melesat signifikan di tengah sentimen restrukturisasi, sementara sektor batu bara loyo akibat tekanan harga komoditas.

Jakarta · Saturday, 22 November 2025 08:00 WITA · Dibaca: 31
IHSG Tutup Pekan di Level Krusial 7.300: Saham BUMN Karya Melesat, Sektor Batu Bara Loyo.

JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan pekan di sekitar level psikologis krusial 7.300, mencerminkan adanya tarik ulur sentimen antara prospek pembangunan infrastruktur domestik dan tekanan global terhadap harga komoditas. Penutupan di level tersebut terjadi di tengah perbedaan kinerja yang kontras di antara emiten-emiten besar, di mana saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya menunjukkan lonjakan signifikan, sementara sektor batu bara masih dalam tekanan jual.

Pergerakan IHSG yang mampu bertahan di atas level 7.300, seperti yang tercatat pada penutupan perdagangan menjelang akhir periode krusial (misalnya, akhir tahun pada 7.303,89 poin), diinterpretasikan oleh analis sebagai sinyal optimisme investor terhadap fundamental domestik. Di tengah penguatan indeks, saham-saham BUMN Karya, yang bergerak di sektor Infrastruktur, menjadi motor penggerak utama. Saham-saham seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP) kompak mengalami kenaikan harga yang tajam, bahkan mencapai puluhan persen dalam beberapa sesi perdagangan di periode tersebut. Kenaikan ini ditengarai merupakan aksi beli spekulatif (buy the dip) pasca-koreksi tajam, serta respons positif terhadap upaya restrukturisasi dan penegasan peran strategis BUMN Karya dalam proyek-proyek pembangunan nasional.

Di sisi lain, sektor energi, khususnya emiten batu bara, menunjukkan performa yang cenderung loyo. Meskipun beberapa saham batu bara besar sempat menguat tipis, secara umum sektor ini dihadapkan pada tren penurunan kinerja yang lebih luas, sejalan dengan melemahnya harga komoditas batu bara global. Emiten-emiten utama seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menghadapi tantangan dari proyeksi penurunan konsumsi dan produksi batu bara global. Pelemahan ini turut dipengaruhi oleh sentimen transisi energi dan kehati-hatian investor, meski secara fundamental emiten-emiten tersebut masih mencatatkan laba yang kuat dan memiliki neraca keuangan yang sehat.

Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, perbedaan kinerja ini mengindikasikan adanya pergeseran fokus investasi. Setelah menikmati masa 'supercycle' komoditas, pasar kini mulai mengalihkan perhatian ke sektor-sektor yang didukung oleh belanja pemerintah dan pembangunan, seperti infrastruktur. Namun demikian, para pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati sentimen eksternal, termasuk kebijakan suku bunga The Fed dan volatilitas harga komoditas global, yang tetap menjadi faktor penentu arah IHSG di periode mendatang.

Login IG