Saham

IHSG Tumbang 0,25% ke 8.163 di Penutupan Jumat, Saham ADRO-ADMR Jadi 'Biang Kerok' Top Losers LQ45

IHSG ditutup melemah 0,25% ke 8.163 pada penutupan Jumat. Saham ADRO dan ADMR menjadi pendorong utama koreksi, memimpin daftar top losers di indeks LQ45 akibat tekanan harga komoditas.

Jakarta · Saturday, 01 November 2025 00:00 WITA · Dibaca: 48
IHSG Tumbang 0,25% ke 8.163 di Penutupan Jumat, Saham ADRO-ADMR Jadi 'Biang Kerok' Top Losers LQ45

Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan pada Jumat dengan kinerja yang kurang memuaskan, tergelincir 0,25% ke level 8.163,12. Tekanan jual yang signifikan, terutama pada saham-saham sektor komoditas, menjadi pemicu utama koreksi ini, dengan saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) secara mencolok menjadi 'biang kerok' utama dalam daftar *top losers* indeks LQ45.

Pergerakan IHSG pada sesi Jumat didominasi oleh aksi ambil untung (profit taking) investor setelah indeks sempat mencatatkan penguatan di awal pekan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp 13,8 triliun, melibatkan 29,5 miliar saham yang ditransaksikan dengan frekuensi mencapai 1,3 juta kali. Meskipun sentimen pasar regional cenderung bervariasi, kekhawatiran terhadap pelemahan harga komoditas global dan isu kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) turut membayangi pergerakan indeks sepanjang hari.

Fokus utama koreksi pasar tertuju pada saham-saham pertambangan batu bara yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Saham ADRO, salah satu konstituen utama dalam indeks LQ45, anjlok signifikan sebesar 3,45% menjadi Rp 3.250 per saham. Senasib, anak perusahaannya, ADMR, juga terkoreksi lebih dalam dengan penurunan mencapai 4,10% ke level Rp 1.800 per saham. Pelemahan harga batu bara acuan di pasar internasional disinyalir menjadi katalis negatif yang menekan kinerja kedua emiten Grup Adaro ini, memicu aksi jual masif oleh investor domestik maupun asing.

Selain ADRO dan ADMR, beberapa saham *big caps* lain yang turut berkontribusi sebagai pemberat (laggards) indeks LQ45 adalah PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), yang juga menutup perdagangan di zona merah. Meskipun demikian, sektor perbankan dengan kapitalisasi besar (Big Banks) seperti BBCA dan BBRI relatif mampu menahan laju penurunan IHSG, mencegah koreksi lebih dalam. Analis memperkirakan pergerakan IHSG di pekan mendatang akan sangat bergantung pada rilis data inflasi domestik dan prospek harga komoditas, dengan potensi *rebound* terbatas jika sentimen global membaik.

Login IG