IHSG Terpleset ke Zona Merah, Asing Diam-Diam Serbu Saham Energi dan Teknologi Ini
IHSG terkoreksi 0,04% ke 8.391,24 pada Senin (10/11/2025), namun asing catat net buy Rp 416 M. BREN, DEWA, dan INET menjadi saham yang paling banyak diburu.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan awal pekan, Senin (10/11/2025), dengan koreksi tipis, terperosok ke zona merah meskipun sempat mencatatkan performa optimistis di sepanjang sesi. Indeks komposit ditutup melemah 0,04% atau terkoreksi 3,35 poin, berada di level 8.391,24.
Pelemahan tipis ini terjadi setelah IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi baru (all time high/ATH) intraday di level 8.478,14 pada sesi pagi. Tekanan jual yang signifikan di akhir sesi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor tertentu, menjadi pemicu utama indeks gagal mempertahankan penguatan.
Meskipun indeks acuan domestik terkoreksi, sentimen investor global terhadap pasar modal Indonesia justru menunjukkan sinyal positif. Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) yang substansial, mencapai **Rp 416,04 miliar** di seluruh pasar. Nilai net buy di pasar reguler sendiri mencapai Rp 102,93 miliar, menandakan adanya akumulasi tersembunyi (diam-diam serbu) pada saham-saham pilihan yang dinilai memiliki prospek kuat di tengah tekanan pasar.
Aksi beli bersih asing paling banyak terkonsentrasi pada beberapa emiten utama. Menurut data transaksi, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi target utama serbuan dana asing, dengan total net buy mencapai **Rp 310,57 miliar**. Saham yang bergerak di sektor energi terbarukan ini ditutup menguat 2,51% ke level Rp10.225.
Tidak hanya BREN, dua saham lain yang juga menjadi sasaran utama akumulasi investor global adalah PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dengan nilai net buy Rp 92,48 miliar, yang bahkan melesat 14,37%, serta emiten teknologi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) yang dicatat memiliki net buy asing sebesar Rp 84,10 miliar. Akumulasi ini menunjukkan adanya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang sektor energi dan teknologi, meskipun IHSG secara keseluruhan berada di zona merah.
Secara sektoral, pelemahan IHSG sebagian besar disebabkan oleh anjloknya saham-saham di sektor Kesehatan, yang menjadi satu-satunya dari 11 indeks sektoral yang ditutup terkoreksi (0,7%). Tekanan ini diperberat oleh koreksi tajam salah satu emiten, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yang turun 12% dan menyeret indeks. Sebaliknya, sektor Teknologi memimpin penguatan dengan lonjakan 3,87%, disusul sektor Perindustrian yang naik 3,00%, menggarisbawahi divergensi sentimen antar-sektor di pasar.