IHSG Terbang Tinggi, Cetak Rekor *All Time High* (ATH) Baru di Level 8.640 Didorong Saham DSSA dan Bank Jumbo.
IHSG pecah rekor ATH baru di 8.640,23 hari ini (4/12/2025) setelah melonjak 1,25%, didorong oleh aksi beli di saham DSSA dan empat bank jumbo (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI).
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan sejarah baru pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (4/12/2025), dengan mencetak rekor *All Time High* (ATH) baru di level 8.640,23. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini melonjak tajam sebesar 1,25% atau setara 106,5 poin, didorong oleh aksi beli masif pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar (*big cap*), khususnya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan emiten perbankan BUKU IV.
Pencapaian rekor ATH ini mengindikasikan kuatnya optimisme investor terhadap fundamental ekonomi domestik di tengah sentimen global yang mulai mereda. Volume transaksi tercatat mencapai 25,8 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi harian menembus angka impresif Rp 18,5 triliun. Investor asing kembali menunjukkan minatnya dengan membukukan pembelian bersih (*net buy*) sebesar Rp 875 miliar di seluruh pasar, menandakan arus modal asing (*capital inflow*) yang berkelanjutan.
Kinerja cemerlang IHSG hari ini tidak lepas dari kontribusi signifikan dua kelompok utama. Saham DSSA, yang dikenal memiliki diversifikasi bisnis dari energi, pertambangan, hingga teknologi digital, menjadi salah satu *top mover* dengan kenaikan dramatis, menguat sebesar 15,2% ke level Rp 280.000 per saham. Kenaikan ini ditopang oleh spekulasi positif terkait prospek bisnis ramah lingkungan dan aset digital perseroan yang diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan di tahun mendatang.
Selain DSSA, kelompok perbankan BUKU IV atau yang sering dijuluki 'Bank Jumbo' turut menjadi pilar utama penopang kenaikan. Empat bank raksasa, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, secara kolektif memberikan kontribusi lebih dari 60% terhadap kenaikan indeks. Sentimen positif dari proyeksi kinerja kuartalan yang solid, didukung oleh pertumbuhan kredit dan kualitas aset yang terjaga, memicu kenaikan harga saham mereka rata-rata di atas 2%. Kenaikan ini menegaskan peran dominan sektor keuangan dalam struktur pasar modal Indonesia.
Analis pasar dari JClarity Research, Anton Wirawan, menyatakan bahwa momentum ATH ini adalah buah dari kombinasi faktor domestik dan global. "Keputusan The Federal Reserve yang kembali cenderung *dovish* serta inflasi domestik yang terkendali memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga akomodatif. Likuiditas yang melimpah ini kemudian mengalir ke aset berisiko tinggi seperti saham *blue chip* Indonesia. Level 8.640 kini bertindak sebagai *support* psikologis baru," jelasnya.
Dengan terbentuknya rekor baru ini, para pelaku pasar kini menantikan level psikologis selanjutnya di kisaran 8.700 hingga 8.750. Namun, Anton mengingatkan bahwa potensi aksi ambil untung (*profit taking*) tetap perlu diwaspadai, terutama jika tidak ada katalis positif baru yang substansial dari laporan keuangan emiten di awal kuartal depan.