IHSG Tembus Rekor Tertinggi 8.257,85, Saham CUAN, AMMN, dan PGUN Jadi Penggerak Utama Pasar Pekan Ini
IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di 8.257,85 pada pekan 6-10 Oktober 2025. Saham CUAN, AMMN, dan PGUN menjadi penopang utama lonjakan indeks.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencetak sejarah dengan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High/ATH) pada periode perdagangan pekan 6–10 Oktober 2025. IHSG ditutup melesat 1,72% ke posisi 8.257,859 pada akhir pekan lalu, melanjutkan tren penguatan dari posisi 8.118,301 di pekan sebelumnya.
Kinerja impresif ini didorong oleh lonjakan signifikan pada beberapa saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor energi dan barang baku. Berdasarkan data BEI, kenaikan IHSG yang mencapai rekor ini tidak lepas dari peran penting beberapa saham yang menjadi penggerak utama (market movers) pasar. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) tercatat memberikan kontribusi poin tertinggi terhadap penguatan indeks.
Saham CUAN, yang merupakan emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 34,58 poin setelah harganya melonjak tajam 51,88% sepanjang pekan. Sementara itu, saham perusahaan tambang tembaga dan emas raksasa, AMMN, menyumbang 15,06 poin dengan kenaikan harga 6,86%. Kontribusi signifikan juga diberikan oleh saham PGUN (PT Pradiksi Gunatama Tbk) dengan sumbangan 8,61 poin. Selain tiga emiten tersebut, saham-saham lain di bawah grup Prajogo Pangestu seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turut memberikan dorongan kuat pada indeks.
Penguatan IHSG yang masif ini juga mengangkat nilai kapitalisasi pasar bursa, yang turut mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, melampaui Rp 15.560 triliun, naik 3,19% dari pekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian BEI juga mengalami peningkatan 12,48% menjadi Rp 28,15 triliun. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengonfirmasi bahwa penutupan IHSG pada pekan tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Namun, di tengah pesta rekor ini, analis pasar modal memberikan catatan penting. Sejumlah pengamat menyoroti bahwa kenaikan IHSG tampak tidak merata karena didominasi oleh pergerakan saham-saham tertentu dengan volatilitas tinggi, dan tidak diikuti oleh saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) sektor keuangan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang justru mengalami koreksi. Kondisi ini memicu kekhawatiran dari beberapa pihak mengenai adanya dominasi saham 'gorengan' yang dapat memicu gejolak, meskipun penguatan IHSG secara umum ditopang oleh kinerja positif ekonomi domestik yang tetap terjaga.