IHSG Sesi 2 Ditutup Naik 0,55% ke 8.416, Saham Ini Jadi Penopang.
IHSG Sesi 2 Senin (17/11/2025) ditutup naik 0,55% ke 8.416. Saham DSSA, BBCA, dan RISE menjadi penopang utama lonjakan indeks di tengah menanti RDG BI.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menutup perdagangan pada Senin, 17 November 2025, di zona hijau, mempertahankan tren penguatan yang telah terjadi di awal pekan. Indeks komposit ditutup menguat signifikan sebesar 0,55% atau naik 46,44 poin, memarkir diri di level 8.416,88.
Kinerja impresif IHSG pada perdagangan sesi kedua hari ini ditopang oleh aksi beli yang terdistribusi luas, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big cap. Berdasarkan data penutupan, total nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp 21,08 triliun, melibatkan perdagangan 41 miliar saham. Sebanyak 354 saham berhasil menguat, sementara 287 saham melemah, dan 173 saham stagnan.
Sejumlah emiten menjadi motor penggerak utama (main movers) yang menyokong laju IHSG, mencegahnya tergelincir ke zona merah. Tiga emiten yang tercatat paling signifikan dalam mendorong penguatan indeks adalah **PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)**, **PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)**, dan **PT Adhi Sarana Loka Tbk (RISE)**. Kenaikan saham-saham ini memberikan bobot besar terhadap pergerakan indeks, terutama dari sektor-sektor kunci.
Secara sektoral, mayoritas indeks sektoral BEI kompak ditutup menghijau. Penguatan terbesar dibukukan oleh Sektor Energi, diikuti oleh Sektor Konsumer Non-Primer, dan Sektor Properti. Sementara itu, di tengah penguatan umum, Sektor Kesehatan tercatat menjadi sektor yang mengalami pelemahan paling dalam.
Penguatan pasar domestik ini terjadi di tengah sentimen pasar yang bervariasi. Pelaku pasar dalam negeri tengah mencermati secara seksama agenda penting pekan ini, yakni Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga. Dari eksternal, sentimen positif datang dari Amerika Serikat terkait keputusan pembatalan tarif impor sejumlah komoditas pertanian, meskipun kewaspadaan tetap muncul terkait isu geopolitik di kawasan Asia-Pasifik.
Aksi beli investor domestik tercatat cukup aktif, menunjukkan tingginya kepercayaan investor dalam negeri terhadap pasar saham Indonesia. Meskipun demikian, pasar tetap diwarnai oleh spekulasi yang terfokus pada sektor-sektor sensitif suku bunga, seperti perbankan, infrastruktur, dan properti, seiring dengan optimisme penurunan suku bunga acuan BI dalam waktu dekat.