IHSG Sepekan Lesu, Transaksi Harian Melompat 33% Dihantam Tekanan Jual Investor Asing
IHSG anjlok 0,29% sepekan terakhir akibat tekanan jual investor asing, meskipun nilai transaksi harian melesat 33,04%. Analisis pasar dan prospek ke depan.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup periode perdagangan 10 hingga 14 November 2025 di zona merah, menunjukkan kelesuan indeks meskipun diwarnai lonjakan luar biasa pada aktivitas transaksi harian. Sentimen negatif pasar, terutama dari aksi jual bersih oleh investor asing, menjadi penghalang utama bagi laju penguatan indeks di tengah likuiditas yang melimpah.
Data BEI mencatat, IHSG melemah tipis 0,29% selama sepekan, ditutup pada level 8.370,436, turun dari posisi pekan sebelumnya di 8.394,590. Penurunan indeks ini kontras dengan ledakan aktivitas perdagangan. Rata-rata nilai transaksi harian BEI tercatat melompat signifikan sebesar 33,04%, naik menjadi Rp23,34 triliun dari Rp17,54 triliun pada pekan sebelumnya. Kenaikan drastis ini mengindikasikan partisipasi pasar yang kuat, meskipun tekanan harga tetap dominan.
Lonjakan transaksi juga tercermin dari Rata-rata Volume Transaksi Harian yang melonjak nyaris dua kali lipat atau sebesar 99,35% menjadi 53,95 miliar lembar saham. Namun, tingginya transaksi ini turut dihantam oleh tekanan jual dari investor global. Meskipun terdapat fluktuasi, investor asing kembali mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp73,42 miliar pada penutupan pekan perdagangan, menambah akumulasi jual bersih sepanjang tahun 2025 yang telah mencapai Rp34,48 triliun.
Analis pasar menilai pelemahan IHSG didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal. Faktor global seperti kekhawatiran terhadap penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus memberikan bayangan koreksi. Selain itu, peningkatan data domestik seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan penjualan ritel belum mampu sepenuhnya menetralkan tekanan jual akibat sentimen makro global.
Meskipun ditutup lesu, para analis melihat bahwa lonjakan likuiditas dan nilai transaksi yang tinggi mengindikasikan minat pasar yang masih kuat dan cenderung positif dalam jangka menengah. Pasar modal Indonesia tetap dipandang atraktif, dengan optimisme bahwa Indeks dapat kembali bergerak dalam tren kenaikan (uptrend) setelah merespons sentimen global dan merealisasikan data ekonomi domestik yang membaik.