Saham

IHSG Pecah Rekor Lagi di 8.250, Trio Saham Boy Thohir Malah Loyo!

IHSG sentuh rekor 8.250,94 (ATH) hari ini, namun 'Trio Saham Boy Thohir' seperti ADRO dan AADI justru terkoreksi akibat profit taking dan rotasi sektor.

JAKARTA · Friday, 10 October 2025 00:00 WITA · Dibaca: 62
IHSG Pecah Rekor Lagi di 8.250, Trio Saham Boy Thohir Malah Loyo!

JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan sejarah baru. Pada penutupan perdagangan Kamis (9/10/2025), IHSG ditutup melesat tajam 1,04% atau naik 84,91 poin, menembus rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) baru di level **8.250,94**. Reli fantastis ini disokong oleh sejumlah sentimen positif, namun euforia penguatan indeks tampaknya tidak dirasakan secara merata, terutama oleh saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Garibaldi 'Boy' Thohir, yang justru terkoreksi.

Penguatan IHSG pada hari ini didorong oleh aksi beli yang masif di sektor-sektor tertentu, terutama sektor Transportasi yang memimpin dengan kenaikan 3,14%, diikuti Sektor Barang Konsumen Non-Primer dan Primer. Nilai transaksi harian di BEI mencapai Rp30,27 triliun. Namun, di tengah gemerlapnya rekor tersebut, terjadi fenomena rotasi sektor yang menekan saham-saham komoditas, termasuk Grup Adaro, yang membuat sektor Energi melemah 1,12%.

Fenomena kontraproduktif ini terlihat jelas pada trio saham yang terafiliasi kuat dengan Boy Thohir, yaitu Grup Adaro. Setelah sempat menguat tajam sehari sebelumnya, saham **PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)** dan **PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)** justru mengalami aksi ambil untung (profit taking) yang signifikan. Berdasarkan data penutupan, saham ADRO terkoreksi 2,16% ke level Rp1.815 per lembar, sementara AADI mencatatkan pelemahan yang lebih dalam sebesar 3,30% ke harga Rp8.050 per lembar.

Koreksi pada saham-saham 'Trio Boy Thohir'—yang juga sering diidentikkan dengan Grup Saratoga seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)—menggambarkan bahwa reli IHSG cenderung bersifat selektif dan tidak didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) atau komoditas. Beberapa analis pasar modal bahkan mencermati bahwa kenaikan IHSG saat ini lebih banyak dikendalikan oleh saham-saham yang 'digoreng' atau saham berkapitalisasi kecil hingga menengah, sehingga berbanding terbalik dengan kinerja indeks blue-chip seperti LQ45 yang masih melemah secara year-to-date.

Data BEI mencatat, penguatan indeks terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang secara kumulatif year-to-date telah mencapai lebih dari Rp54 triliun. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran fokus investor domestik dari saham berfundamental kuat dan berorientasi ekspor (seperti komoditas) ke saham-saham berbasis domestik atau saham dengan potensi volatilitas tinggi, menjauh dari saham-saham Grup Adaro yang tengah fokus pada efisiensi di tengah isu transisi energi.

Login IG