IHSG Melonjak Tajam Tembus 8.088, Saham-Saham Big Cap Bank Pesta Cuan.
IHSG tembus level psikologis 8.088, didorong aksi beli asing masif pada saham-saham perbankan big cap seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mencatat sejarah baru hari ini, Senin (20/10/2025), dengan membukukan lonjakan signifikan, menembus level psikologis 8.000 dan ditutup pada rekor tertinggi 8.088,45. Kinerja luar biasa ini didorong oleh derasnya arus dana asing yang memburu saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar (big cap), mengukuhkan dominasi sektor finansial sebagai motor penggerak pasar.
IHSG bergerak masif sepanjang sesi perdagangan, mencatatkan kenaikan harian sebesar 1,87%. Total nilai transaksi mencapai angka impresif Rp17,5 triliun, didukung oleh aksi beli bersih asing (Net Foreign Buy/NFB) yang mencapai lebih dari Rp2,1 triliun di pasar reguler. Sentimen positif dari data ekonomi domestik yang kuat, terutama terkait stabilitas inflasi dan optimisme rilis kinerja kuartal IV emiten, menjadi pemicu utama rally ini.
Sektor perbankan menjadi primadona hari ini, dengan empat bank berkapitalisasi pasar terbesar (Big Four) mencatatkan kenaikan harga yang spektakuler. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin kenaikan dengan melompat 3,15%, diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang melonjak 4,02% pasca pengumuman rencana buyback saham. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masing-masing naik 2,88% dan 3,50%, memperkuat posisi mereka sebagai penopang utama IHSG.
Kepala Riset J-Clarity Institute, Bima Satria, menyatakan bahwa lonjakan ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia. "Level 8.088 adalah milestone penting. Kepercayaan asing kembali karena kinerja perbankan kita terbukti tangguh dan prospek pertumbuhan kredit masih cerah. Ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengantisipasi perbaikan peringkat (rating) dan potensi Indonesia masuk ke indeks global yang lebih bergengsi," jelas Bima kepada JClarity.
Meskipun demikian, Bima mengingatkan investor untuk tetap waspada. Level 8.100 kini menjadi area resistensi psikologis selanjutnya. "Koreksi sehat mungkin terjadi setelah lonjakan tajam ini, dengan level 8.000 menjadi titik support kunci. Namun, selama arus dana asing tetap stabil dan bank sentral global tidak terlalu agresif, momentum positif IHSG di kuartal terakhir tahun ini diperkirakan akan berlanjut," tutupnya.