IHSG Melonjak 1,04% Tembus 8.250, Saham AMMN, BBTN, dan ISAT Pimpin Penguatan LQ45.
IHSG mencetak rekor baru, melonjak 1,04% ke 8.250,94. Saham AMMN (+6,09%), BBTN (+4,66%), dan ISAT (+4,12%) pimpin LQ45. Didukung sentimen The Fed dan 'Purbaya Effect'.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencetak sejarah pada penutupan perdagangan Kamis (9/10/2025), melesat tajam 1,04% atau 84,91 poin ke posisi 8.250,94. Penguatan signifikan ini juga ditandai dengan pencapaian rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) baru di level 8.272,63, didorong oleh derasnya arus modal ke saham-saham blue chip yang fundamental kuat.
Kinerja impresif IHSG sejalan dengan Indeks LQ45 yang juga mengalami lonjakan tajam sebesar 1,95% ke level 800,14. Tiga emiten utama yang memimpin pergerakan positif di LQ45 adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), dan PT Indosat Tbk (ISAT). Saham AMMN menanjak 6,09% menjadi Rp7.400, BBTN melesat 4,66% ke Rp1.235, dan ISAT menguat 4,12% mencapai Rp1.895 per saham.
Aktivitas perdagangan terpantau sangat ramai. Berdasarkan data RTI Business, total nilai transaksi harian menembus angka fantastis Rp30,27 triliun, melibatkan 37,67 miliar saham yang diperdagangkan dalam 3,07 juta kali frekuensi transaksi. Sebanyak 433 saham ditutup menguat, jauh melampaui 229 saham yang terkoreksi, serta 135 saham yang stagnan.
Penguatan indeks didukung oleh lonjakan di mayoritas sektor, di mana sektor Keuangan dan Transportasi menjadi penopang utama. Sektor keuangan menguat 1,14%, didorong oleh kenaikan signifikan pada saham-saham perbankan Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) seperti BBTN, BBRI, dan BMRI. Sementara itu, sentimen positif juga datang dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyuarakan optimisme terhadap masa depan pasar modal dan komitmen untuk menyelesaikan isu 'saham gorengan'.
Sentimen global yang cenderung dovish dari risalah rapat The Fed, dikombinasikan dengan ketahanan konsumsi domestik yang tercermin dari pertumbuhan data ritel Agustus sebesar 3,5% (YoY), semakin memperkuat pijakan IHSG. Kombinasi faktor domestik dan global ini menempatkan IHSG di atas level psikologis 8.250, memberikan sinyal positif bagi prospek investasi di pasar saham Indonesia.