IHSG Melompat 4,5% ke Level 8.271 Sepekan, Investor Asing Borong Saham Rp 4,23 Triliun.
IHSG melonjak 4,5% ke 8.271 sepekan (20-24 Oktober 2025), didorong aksi borong saham investor asing (net buy) senilai Rp 4,23 Triliun. Bank Big Caps jadi incaran.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup pekan perdagangan 20–24 Oktober 2025 dengan performa yang sangat impresif, mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 4,5% ke level 8.271, setelah sebelumnya sempat berada di bawah tekanan. Kinerja mingguan yang luar biasa ini secara bersamaan didorong oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing yang masif, dengan nilai mencapai Rp 4,23 triliun di seluruh pasar.
Reli kuat yang terjadi sepanjang pekan ini menandai titik balik signifikan bagi IHSG, yang berhasil membalikkan penurunan tajam di periode sebelumnya. Sentimen positif global menjadi katalis utama, terutama setelah meredanya tekanan inflasi di Amerika Serikat yang memicu ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed). Aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, kembali deras seiring membaiknya prospek ekonomi global.
Dari sisi domestik, kepercayaan investor ditopang oleh stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi yang terkendali, serta optimisme yang tinggi terhadap laporan keuangan emiten kuartal III tahun 2025. Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) menjadi target utama, khususnya di sektor Keuangan, Energi, dan Konsumsi. Perbankan menjadi pendorong utama reli, di mana saham-saham seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI menjadi incaran utama investor institusional yang mencerminkan keyakinan mereka terhadap fundamental korporasi yang solid dan potensi pertumbuhan kredit di masa mendatang.
Analis pasar menilai, lonjakan 4,5% IHSG dalam sepekan terakhir memberikan sinyal kuat bahwa pasar telah memasuki fase bullish baru. Level 8.271 yang dicapai saat ini membuka ruang untuk menguji area resistensi berikutnya, dengan potensi menembus level psikologis 8.300 dan mencetak rekor all-time high (ATH) baru, asalkan momentum net buy asing terus berlanjut. Meskipun demikian, investor tetap diminta mewaspadai risiko jangka pendek, seperti potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan tajam, serta perkembangan kebijakan moneter The Fed dan dinamika geopolitik global yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi sentimen pasar.