IHSG Koreksi, 5 Saham Justru Cuan Besar
IHSG anjlok 0,77% ke 8.061,06 pada 30 September 2025 akibat aksi jual asing. Kontras, 5 saham lapis kedua seperti OILS, ERTX, dan RMKO justru meroket cuan 34%.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa, 30 September 2025, dalam zona merah, mencatatkan koreksi signifikan di tengah sentimen jual investor asing. Meskipun indeks acuan nasional tersebut anjlok 0,77% atau merosot 62,18 poin, beberapa saham lapis kedua justru mencatat keuntungan fantastis, bahkan menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA).
Koreksi IHSG pada penutupan perdagangan hari ini menempatkan indeks pada posisi 8.061,06. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masif, mencapai sekitar Rp 1,7 triliun di seluruh pasar. Tekanan terbesar datang dari saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBRI, BBCA, dan BBNI, serta emiten utilitas BREN, yang secara kolektif menjadi kontributor utama penurunan indeks. Tercatat, sebanyak 410 saham mengalami penurunan, berbanding 304 saham yang menguat, menunjukkan sentimen pasar yang mayoritas negatif.
Namun, di tengah tekanan jual yang melanda mayoritas sektor, lima saham berhasil mencatatkan persentase penguatan tertinggi (Top Gainers) hari ini, menunjukkan adanya pergerakan spekulatif yang agresif di saham-saham non-blue chip. Kelima saham tersebut seluruhnya mencatat kenaikan di atas 33%, menandakan lonjakan harga yang maksimal dalam sehari perdagangan.
Daftar lima saham yang membukukan 'cuan besar' di kala IHSG terkoreksi per 30 September 2025 adalah:
- **Saham OILS** melompat 34,72%.
- **Saham ERTX** melonjak 34,65%.
- **Saham RMKO** menguat 34,12%.
- **Saham ASLI** terbang 34,00%.
- **Saham AKAGI** meroket 33,85%.
Secara sektoral, penurunan IHSG didominasi oleh sektor Keuangan dan Utilitas. Meskipun demikian, beberapa sektor lain seperti Properti dan Energi menunjukkan ketahanan, bahkan memimpin penguatan sektoral, didorong oleh kenaikan harga pada saham-saham seperti PANI, DSSA, BRMS, dan RAJA. Analis pasar menilai koreksi ini dipengaruhi oleh aksi profit taking dan dorongan aksi jual asing, dengan indikator teknikal seperti MACD dan RSI menunjukkan pelemahan tren.