Saham

**IHSG Ditutup Turun 0,59%, Prajogo & Hapsoro Belum Kuat Jaga**

IHSG ditutup turun 0,59% (27/11/2025) di tengah aksi jual big caps dan tekanan asing. Saham Prajogo (CDIA) dan Hapsoro (BUVA) tak mampu menahan pelemahan indeks.

JAKARTA · Friday, 28 November 2025 03:00 WITA · Dibaca: 35
**IHSG Ditutup Turun 0,59%, Prajogo & Hapsoro Belum Kuat Jaga**

JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini dengan pelemahan, ditutup terkoreksi sebesar 0,59% pada Kamis, 27 November 2025. Indeks parkir di level 8.557,41, tertekan oleh aksi jual masif pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dari berbagai sektor. Meskipun saham-saham dari Grup Prajogo Pangestu dan Hapsoro Sukmonohadi sempat menunjukkan perlawanan, tekanan jual yang dominan di pasar hari ini membuktikan bahwa kekuatan konglomerat tersebut "Belum Kuat Jaga" (belum cukup kuat untuk menahan) laju pelemahan indeks.

Koreksi IHSG pada penutupan sesi kedua ini terjadi setelah indeks sempat bergerak variatif dan menguat pada awal perdagangan. Berdasarkan data, pelemahan signifikan terutama berasal dari sektor-sektor non-siklikal, kesehatan, dan teknologi, yang masing-masing mencatatkan penurunan. Sentimen wait and see investor menjelang rilis data domestik penting dan berlanjutnya tekanan jual oleh investor asing turut memperberat laju indeks.

Di tengah tekanan pasar, sorotan tertuju pada pergerakan saham emiten-emiten yang terafiliasi dengan dua konglomerat, Prajogo Pangestu dan Hapsoro Sukmonohadi. Dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, beberapa saham memang sempat memberi sinyal positif. PT Barito Pacific Tbk (BRPT), misalnya, dilaporkan mencatatkan akumulasi asing yang signifikan dan menguat. Namun, pergerakan ini tidak merata. Anak usaha Prajogo, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang sempat melonjak di sesi pagi, justru berbalik arah dan ditutup melemah di akhir perdagangan.

Sementara itu, sentimen negatif juga menyelimuti saham-saham yang terkait dengan Hapsoro Sukmonohadi, khususnya di sektor properti. Setelah sempat ramai diburu, berita aksi divestasi besar-besaran oleh Happy Hapsoro, baik melalui perusahaannya PT Nusantara Utama Investama maupun penjualan saham pribadi di PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir, menciptakan sentimen profit taking di kalangan investor. Walaupun penjualan ini diklaim untuk merealisasikan keuntungan dan menambah jumlah free float, likuidasi dalam jumlah besar dari pemegang saham pengendali menambah beban psikologis di pasar.

Analis pasar modal mencatat bahwa meskipun saham-saham konglomerat dikenal memiliki bobot besar yang mampu menopang indeks, kekuatan tersebut menjadi terbatas ketika saham-saham blue chip dengan kapitalisasi pasar terbesar, terutama dari sektor perbankan dan konsumsi, mengalami tekanan jual yang masif. Aksi net sell yang dilakukan investor asing pada saham-saham unggulan, yang menjadi pemicu utama pelemahan, membuat upaya 'menjaga' indeks oleh emiten-emiten Prajogo dan Hapsoro tidak mampu membuahkan hasil positif untuk IHSG secara keseluruhan.

Login IG