IHSG Cetak Rekor Tertinggi Baru 8.570, Saham Bank Jumbo Jadi Penopang Utama.
IHSG mencetak rekor tertinggi baru di 8.570,25 pada 24/11/2025, didorong oleh penguatan saham Bank Jumbo seperti BMRI dan BBCA, serta efek dari rebalancing Indeks MSCI.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menorehkan sejarah baru, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) pada penutupan perdagangan Senin (24/11/2025). Indeks acuan tersebut melesat signifikan, ditutup pada posisi 8.570,25, didorong oleh aksi beli masif yang berfokus pada saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar jumbo, yang dikenal sebagai 'Bank Jumbo'.
Penguatan IHSG mencapai 1,85% atau naik 155,90 poin dalam satu hari perdagangan, melampaui rekor tertinggi sebelumnya. Kenaikan meyakinkan ini terjadi di tengah volume dan nilai transaksi yang sangat ramai, mencapai angka fantastis Rp45,65 triliun, yang melibatkan sekitar 51,65 miliar saham. Aktivitas perdagangan yang padat ini mencerminkan tingginya sentimen positif dan minat investor terhadap pasar modal Indonesia.
Saham-saham perbankan raksasa terbukti menjadi motor penggerak utama lonjakan indeks. Berdasarkan data perdagangan, saham Bank Mandiri (BMRI) memberikan kontribusi terbesar di antara bank-bank besar lainnya, dengan menyumbang lebih dari 12 poin kenaikan indeks. Diikuti oleh Bank Central Asia (BBCA), yang juga konsisten memberikan kontribusi positif yang signifikan. Keempat bank besar (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) secara kolektif menahan pergerakan IHSG di zona hijau, menegaskan dominasi mereka dalam struktur kapitalisasi pasar BEI.
Analis pasar menilai bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh dua katalis utama. Pertama, fundamental kuat dari saham-saham perbankan jumbo yang terus mencetak kinerja keuangan positif. Kedua, adanya pengocokan ulang (rebalancing) Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia yang berlaku efektif pada hari ini, Selasa (25/11/2025). Rebalancing ini memicu penyesuaian portofolio besar-besaran oleh dana-dana asing, yang pada gilirannya mendorong permintaan terhadap saham-saham blue chip Indonesia.
Keberhasilan IHSG menembus rekor 8.570,25 ini membawa optimisme baru bagi pelaku pasar. Secara teknikal, pergerakan indeks berpeluang untuk menguji level psikologis selanjutnya di 8.600 dalam waktu dekat. Capaian ini juga memperkuat posisi pasar modal Indonesia di kawasan regional, menunjukkan ketahanan dan daya tarik investasi di tengah dinamika ekonomi global.