IHSG Berpeluang Tembus 7.350, Big Cap 'Window Dressing' Dipimpin TLKM dan BBRI.
Optimisme 'window dressing' akhir tahun dorong IHSG berpeluang tembus level ambisius, dipimpin akumulasi saham Big Cap seperti TLKM dan BBRI di tengah koreksi hari ini.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (19/12/2025) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif, diperdagangkan di sekitar level 8.568 setelah sempat dibuka menguat tipis. Meskipun diwarnai aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek, optimisme pasar menjelang penutupan tahun tetap membara, didorong kuat oleh ekspektasi fenomena 'window dressing' yang diprediksi akan menyasar saham-saham berkapitalisasi besar (Big Cap).
Sentimen akhir tahun ini kian diperkuat oleh analisis sejumlah sekuritas yang meyakini momentum window dressing dapat mendorong IHSG menguji level yang lebih ambisius. Meskipun target historis berada di rentang yang lebih rendah, dengan posisi indeks saat ini di atas 8.500, para analis memproyeksikan IHSG berpotensi menyentuh kisaran 8.800 hingga 9.000 di pengujung Desember 2025. Perkiraan ini sejalan dengan data historis yang mencatat probabilitas kenaikan IHSG yang tinggi pada bulan Desember.
Dua emiten utama yang menjadi motor penggerak indeks adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Keduanya merupakan saham unggulan (blue chip) dengan bobot besar dalam perhitungan IHSG, menjadikannya target utama akumulasi dana manajer investasi dan investor asing untuk mempercantik portofolio akhir tahun.
Saham **TLKM** secara historis dikenal sebagai 'langganan' window dressing, dengan probabilitas kenaikan harga yang sangat tinggi di bulan Desember. Kinerja fundamental TLKM juga menunjukkan prospek positif, dengan kenaikan harga saham (Year-to-Date/YTD) yang signifikan, serta rekomendasi 'BUY' dan target harga yang masih menyisakan upside.
Sementara itu, saham perbankan seperti **BBRI** dan emiten bank Big Cap lainnya (BBCA, BMRI) juga diperkirakan menjadi penopang utama. Sektor keuangan sendiri sempat menunjukkan penguatan, meskipun tipis, di tengah tekanan sektoral lain pada perdagangan Jumat. BBRI baru-baru ini mendapatkan rekomendasi 'Buy on Weakness' dari analis, mengindikasikan bahwa koreksi harga saat ini justru menjadi peluang masuk yang menarik sebelum reli akhir tahun terjadi.
Meskipun sentimen positif mendominasi, investor tetap diimbau untuk mewaspadai adanya risiko teknikal. Koreksi yang terjadi pada perdagangan hari ini (19/12) sebagian disebabkan oleh tekanan jual dan profit taking setelah kenaikan yang berkelanjutan. Analis menyarankan strategi 'Buy on Weakness' pada saham-saham Big Cap yang fundamentalnya kuat untuk memanfaatkan koreksi minor ini sebagai titik masuk, sambil tetap mencermati perkembangan suku bunga global dan tensi geopolitik yang dapat memicu ketidakpastian.