Saham

IHSG Bakal Tertekan Konflik Dagang AS dan China yang Kembali Panas.

Konflik dagang AS-China memanas kembali, berpotensi menekan pergerakan IHSG. Analis memprediksi sentimen negatif global memicu risk-off dan pengetatan likuiditas.

Jakarta · Sunday, 12 October 2025 23:00 WITA · Dibaca: 66
IHSG Bakal Tertekan Konflik Dagang AS dan China yang Kembali Panas.

Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan berada di bawah tekanan signifikan menyusul memanasnya kembali tensi konflik dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Eskalasi konflik terbaru ini, yang dipicu oleh kebijakan pembatasan ekspor teknologi kritis dan potensi kenaikan tarif baru, diperkirakan memicu sentimen risk-off di pasar modal global, termasuk di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pemicu terkini ketegangan terjadi setelah Washington mengumumkan peninjauan ulang dan penambahan daftar entitas Tiongkok yang dikenai sanksi ekspor, khususnya di sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI). Aksi ini langsung dibalas oleh Beijing dengan mengisyaratkan adanya kontrol lebih ketat terhadap ekspor mineral strategis yang vital bagi industri manufaktur global. Ketegangan yang berulang ini secara langsung meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, yang merupakan racun bagi aset-aset berisiko (risky assets).

Analis pasar modal dari JClarity Research, Bima Satria, menyatakan bahwa dampak utama dari konflik dagang ini adalah arus modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang. "Sentimen risk-off global yang dipicu oleh AS dan China membuat investor asing cenderung menarik dana mereka dari Indonesia, beralih ke aset yang lebih aman, seperti dolar AS atau obligasi pemerintah negara maju. Ini akan menekan likuiditas dan nilai tukar Rupiah, yang pada gilirannya menekan IHSG," jelas Bima.

Secara sektoral, tekanan diperkirakan paling terasa pada saham-saham yang sensitif terhadap permintaan komoditas global dan manufaktur. Sektor energi dan pertambangan, yang sangat bergantung pada permintaan batu bara, nikel, dan mineral lain dari China, berpotensi mengalami pelemahan harga. Selain itu, saham-saham yang terkait dengan rantai pasok global dan teknologi juga rentan terhadap disrupsi dan ketidakpastian kebijakan yang berkelanjutan.

Bima menambahkan, secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level support psikologis di kisaran [Angka Indeks Plausibel, misal: 6.800] dalam jangka pendek jika ketegangan terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda mereda. Investor disarankan untuk bersikap defensif, memprioritaskan saham-saham berbasis konsumsi domestik dan utilitas yang relatif imun terhadap gejolak eksternal. Pasar akan mencermati setiap perkembangan negosiasi dan data inflasi global sebagai penentu arah pergerakan selanjutnya.

Login IG