IHSG Anjlok Hampir 3 Persen, Investor Lari ke Emas dan Perak
IHSG anjlok hampir 3 persen pada 14 Oktober 2025 dipicu profit taking dan saham Prajogo Pangestu. Investor lari ke emas dan perak yang mencapai rekor ATH.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan jual signifikan pada perdagangan Selasa (14/10/2025), dengan koreksi tajam yang sempat menyentuh level anjlok hampir 3 persen di sesi kedua. Tekanan ini, yang menyebabkan indeks meninggalkan level psikologis 8.000, mendorong investor untuk kembali melirik aset-aset aman (safe haven) seperti emas dan perak yang harganya justru melonjak dan mencetak rekor tertinggi baru (All-Time High/ATH).
Pada penutupan perdagangan, IHSG tercatat anjlok 1,95 persen atau kehilangan 160,67 poin, berada di level 8.066,52. Meskipun ditutup di bawah ambang batas 2 persen, indeks sempat terperosok lebih dalam hingga 3 persen ke level 7.977,87 pada pukul 14.00 WIB, yang memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar. Mayoritas indeks sektoral terbenam di zona merah, dengan total 583 saham melemah.
Anjloknya kinerja pasar saham domestik ini disebut didorong oleh dua faktor utama: aksi ambil untung (profit taking) skala besar dan sentimen global yang memburuk. VP Marketing Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menjelaskan bahwa koreksi teknikal ini terjadi setelah reli sebelumnya dianggap tidak didukung oleh volume transaksi yang kuat dan indikator Relative Strength Index (RSI) telah menunjukkan posisi overbought (jenuh beli).
Faktor lain yang menjadi pemberat utama adalah aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar milik konglomerat Prajogo Pangestu. Saham-saham seperti Chandra Daya Investasi (CDIA) anjlok 14,47 persen, Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) turun 13 persen, Barito Pasific (BRPT) terkoreksi 8,08 persen, dan Chandra Asri Pasific (TPIA) melemah 7,45 persen, memberikan kontribusi poin negatif yang signifikan terhadap penurunan IHSG.
Di tengah gejolak pasar saham, aset komoditas safe haven justru bersinar. Harga emas di pasar spot naik 2,2 persen, mencapai $4.106,48 per ons, setelah sempat menyentuh rekor ATH di $4.116,77 per ons. Emas berjangka AS untuk pengiriman Desember bahkan menguat 3,3 persen ke level $4.133 per ons. Logam mulia lain, perak, juga dilaporkan menguat signifikan, mencatat harga penutupan tertinggi sejak 2011.
Pergeseran investasi ini dipicu oleh ketidakpastian global, termasuk mencuatnya kembali ketegangan perdagangan AS-China setelah Presiden AS Donald Trump mengakhiri gencatan dagang, serta ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga The Fed. Kenaikan harga emas yang melesat di atas $4.100 menjadi indikasi kuat bahwa investor memilih mengamankan asetnya di instrumen yang lebih stabil di tengah kekhawatiran geopolitik dan ekonomi.