IHSG Anjlok 2,57% Hari Ini, Sektor Utilitas dan Energi Ambruk
IHSG ambruk 2,57% pada penutupan Jumat (17/10/2025) ke level 7.915,66. Sektor Energi dan Utilitas ambruk menjadi penekan utama di tengah sentimen global dan aksi jual asing.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terperosok tajam pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (17/10/2025), setelah ditutup di zona merah sepanjang hari. Indeks acuan ini anjlok signifikan sebesar 209,10 poin atau 2,57% ke level 7.915,66, menjadi pelemahan terdalam yang tercatat dalam dua bulan terakhir.
Koreksi mendalam tersebut diseret oleh tekanan jual yang merata di hampir seluruh sektor, dengan sektor Utilitas dan Energi menjadi penekan utama. Berdasarkan data perdagangan BEI, seluruh 11 sektor mengalami pelemahan, yang menunjukkan sentimen negatif yang menyeluruh di pasar modal domestik.
Secara rinci, sektor Energi mencatatkan koreksi paling dalam, turun 4,91 persen. Sementara itu, sektor Teknologi juga ambruk 5,13 persen, diikuti oleh sektor Barang Baku dan Industri yang masing-masing melemah sekitar 2,57 persen dan 2,28 persen. Sektor Utilitas, yang merupakan bagian dari sektor yang tertekan, turut menyumbang pelemahan signifikan.
Volume transaksi pada hari ini mencapai 40,274 miliar saham dengan total nilai transaksi yang fantastis, yakni menembus Rp28,556 triliun. Sebanyak 617 saham ditutup melemah, jauh melampaui 116 saham yang menguat, dan 94 saham stagnan. Aksi jual investor asing (net sell) juga tercatat masif, yang memperburuk tekanan di pasar.
Analis menilai, pelemahan IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen negatif global dan domestik. Secara global, meningkatnya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta isu government shutdown yang berkepanjangan di AS, memicu peningkatan risiko dan menekan bursa saham kawasan Asia.
Di dalam negeri, aksi profit taking lanjutan terhadap saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi penopang indeks turut berkontribusi besar. Selain itu, rencana otoritas pasar modal mengenai ketentuan free float baru dan penindakan tegas terhadap isu 'penggorengan saham' mendorong investor melakukan penjualan pada saham-saham yang telah mengalami kenaikan signifikan.
Pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan depan, serta rilis data pertumbuhan kredit dan data M2 Money Supply September 2025, yang diharapkan dapat memberikan kepastian dan arah baru bagi pasar modal Indonesia.