IHSG Anjlok 2,22% di Jeda Siang 17 Oktober, Tinggalkan Level 8.000!
IHSG anjlok tajam 2,22% pada jeda siang 17 Oktober 2025, turun ke level 7.955,25. Aksi jual asing masif dan sentimen negatif global menjadi pemicu utama.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup di zona merah yang sangat dalam pada jeda siang hari ini, Kamis, 17 Oktober 2025. Indeks acuan tersebut ambruk signifikan sebesar 2,22%, secara dramatis meninggalkan level psikologis 8.000 setelah sempat bertahan di awal sesi pembukaan.
Pada penutupan sesi I pukul 12.00 WIB, IHSG tercatat berada di posisi 7.955,25, merosot 179,93 poin dari penutupan hari sebelumnya. Kinerja buruk ini didorong oleh aksi jual masif, terutama dari investor asing. Data BEI menunjukkan, nilai transaksi mencapai sekitar Rp 7,5 triliun, dengan tekanan jual bersih atau net sell asing mencapai sekitar Rp 850 miliar, menandakan kepanikan pasar yang cukup mendalam.
Pelemahan tajam ini diyakini merupakan respons terhadap sentimen negatif global yang diperburuk oleh kekhawatiran kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang lebih agresif dari perkiraan. Selain itu, ketidakpastian geopolitik di Eropa Timur dan harga komoditas utama yang mulai melandai juga turut memberikan tekanan jual yang signifikan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) di Tanah Air.
Hampir seluruh sektor industri mengalami penurunan. Dari 11 sektor, 10 sektor tercatat anjlok, dengan penurunan terdalam dipimpin oleh sektor Teknologi yang merosot lebih dari 3,5% dan sektor Barang Baku (Basic Materials) yang anjlok 2,8%. Sektor Keuangan juga tidak luput dari koreksi, turun 2,1%, menyeret saham-saham perbankan besar.
Di lantai bursa, tercatat 450 saham melemah, hanya 100 saham yang menguat, dan 120 saham stagnan, menunjukkan sentimen pasar yang sangat bearish dan merata. Analis memprediksi bahwa pasar akan terus menghadapi volatilitas tinggi di sesi kedua, terutama menjelang rilis data inflasi penting global. Investor diimbau untuk tetap mencermati faktor fundamental dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dalam situasi tekanan jual yang kuat saat ini.