IHSG Ambruk Hampir 3 Persen Siang Ini. Kenapa?
IHSG anjlok hampir 3% siang ini ke 7.977,87. Penyebab utamanya adalah aksi profit taking masif pada saham konglomerat, kekhawatiran MSCI, dan sentimen global. j-clarity.com.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan jual yang sangat masif, menyebabkan indeks acuan tersebut ambruk hampir 3 persen pada perdagangan sesi II siang hari ini, [Tanggal 14 Oktober 2025 yang disimulasikan]. Indeks terperosok hingga menyentuh level 7.977,87, setelah sempat dibuka menguat pada awal sesi. Koreksi tajam ini mengejutkan pasar setelah IHSG sebelumnya menunjukkan tren penguatan yang cukup signifikan.
Pelemahan drastis tersebut didominasi oleh dua faktor utama: sentimen domestik yang dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham konglomerat berkapitalisasi jumbo, serta tekanan dari sentimen global. Data mencatat, sejumlah saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu menjadi penarik utama anjloknya indeks. Saham-saham seperti Barito Pasific (BRPT), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Barito Renewables Energy (BREN) menyeret IHSG turun puluhan poin. Aksi ambil untung atau profit taking yang meluas pada saham-saham ini mengindikasikan pergeseran investasi.
Secara teknikal, ambruknya IHSG juga didukung oleh aksi jual oleh investor asing. Investor asing mulai mencatat net sell yang signifikan, seiring dengan adanya isu perubahan metodologi perhitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menekan bobot saham-saham besar Indonesia di indeks global. Kabar penyesuaian perhitungan ini memicu kekhawatiran outflow (arus dana keluar), mendorong investor melakukan panic selling dan menciptakan koreksi teknikal setelah indeks berada di posisi overbought.
Dari sisi global, sentimen risk-off kembali menguat, didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Meskipun pasar sempat optimistis menanti hasil kebijakan suku bunga The Federal Reserve, ketidakpastian ini mendorong investor untuk mengambil posisi yang lebih aman (wait and see), terbukti dari naiknya harga komoditas safe haven seperti emas yang mencatatkan rekor tertinggi baru (new ATH).
Analis Muhammad Wafi dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) mengatakan, koreksi ini merupakan momen konsolidasi setelah reli panjang dan bukan sinyal tren bearish permanen. “Investor disarankan untuk tetap mewaspadai area support kuat di kisaran 7.900-7.950 dalam jangka pendek, dan memanfaatkan koreksi ini untuk mengoleksi saham-saham blue chip yang memiliki fundamental kuat untuk akumulasi jangka panjang,” tambahnya.