Saham

IHSG Ambruk Hampir 2%, Saham Prajogo & Bank Rontok Bareng!

IHSG terkapar 1,95% ke 8.066,52 pada 14 Oktober 2025, dipicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham Prajogo Pangestu (BREN, CUAN) dan bank big caps (BBRI, BMRI, BBCA).

Jakarta · Wednesday, 15 October 2025 08:00 WITA · Dibaca: 64
IHSG Ambruk Hampir 2%, Saham Prajogo & Bank Rontok Bareng!

JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkapar pada perdagangan hari Selasa, 14 Oktober 2025. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini ditutup melemah signifikan, ambruk 160,68 poin atau setara 1,95% ke level 8.066,52. Pelemahan masif ini disebabkan oleh aksi jual besar-besaran yang terjadi secara simultan pada saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu dan saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar (big caps).

Volume transaksi pada hari tersebut tercatat sangat ramai, mencapai Rp 31,76 triliun, yang menunjukkan tekanan jual yang kuat di pasar. Anjloknya IHSG hingga menyentuh level 8.066,52 juga turut menyeret kapitalisasi pasar BEI merosot menjadi Rp 15.179 triliun. Bahkan, IHSG sempat ambruk lebih dari 3% pada sesi intraday, meninggalkan level psikologis 8.000 sebelum pelemahannya sedikit terpangkas menjelang penutupan pasar.

Runtuhnya pasar modal Indonesia dipimpin oleh saham-saham Grup Prajogo Pangestu yang bertindak sebagai pemberat utama indeks. Emiten energi terbarukan seperti Barito Renewables Energy (BREN), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), serta emiten petrokimia Chandra Asri Pacific (TPIA), dan induk usahanya Barito Pacific (BRPT), semuanya terkoreksi parah. Pada saat IHSG sempat ambruk 3%, saham-saham grup ini menyeret IHSG sebesar -56 indeks poin, menunjukkan betapa besar kontribusi mereka dalam menekan indeks.

Tidak hanya saham Grup Prajogo, saham-saham perbankan big caps, yang dikenal sebagai 'saham jangkar' atau blue chip, juga rontok berjamaah. Bank Mandiri (BMRI) mencatatkan koreksi paling dalam di antara big four dengan penurunan 3,31%, diikuti oleh BRI (BBRI) yang turun 3,01%, dan BNI (BBNI) yang melemah 2,56%. Sementara itu, Bank Central Asia (BBCA) turut terkoreksi 1,02%. Secara kolektif, BBRI, BMRI, dan BBNI menyumbang -35,81 indeks poin terhadap penurunan IHSG.

VP Marketing Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menjelaskan bahwa koreksi masif ini didorong oleh aksi ambil untung (profit taking) yang wajar. Menurutnya, kenaikan IHSG pada periode sebelumnya cenderung tidak didukung oleh penguatan volume transaksi, dan indikator Relative Strength Index (RSI) telah menunjukkan posisi overbought, memicu terjadinya koreksi teknikal (technical correction) yang tajam.

Login IG