Saham

IHSG Ambruk Hampir 2%, Saham Prajogo & Bank Rontok Bareng!

IHSG anjlok lebih dari 2% ke 6.602,33 pada 10 Februari 2025. Saham Prajogo (BREN, CUAN) dan bank besar (BBCA, BMRI) rontok akibat net sell asing & kinerja bank.

Jakarta · Wednesday, 15 October 2025 01:00 WITA · Dibaca: 60
IHSG Ambruk Hampir 2%, Saham Prajogo & Bank Rontok Bareng!

JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan kinerja terburuk dengan koreksi tajam. Dalam perdagangan hari ini, Senin (10/2/2025), IHSG ditutup melemah signifikan hingga lebih dari 2%, terbebani oleh rontoknya saham-saham energi milik konglomerat Prajogo Pangestu dan saham perbankan kapitalisasi besar atau big banks.

Hingga penutupan perdagangan sesi II, IHSG tercatat anjlok 2,08% ke level 6.602,33. Indeks bahkan sempat menyentuh level terendah intraday di 6.585,98, memperparah tren pelemahan yang telah terjadi sejak pekan sebelumnya. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp 4,45 triliun, dengan 614 saham berada di zona merah, menunjukkan tekanan jual yang masif di seluruh lini sektor pasar.

Pelemahan IHSG hari ini sebagian besar disumbang oleh saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Dua emiten utama, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), menjadi pemberat utama indeks. Saham BREN melemah nyaris 16%, memberikan kontribusi koreksi terbesar pada IHSG hingga mencapai 41,42 indeks poin. Sementara itu, CUAN ditutup ambruk menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) atau melemah 19,87% ke level Rp 9.075 per saham, berkontribusi melemahkan indeks hingga 9,41 poin.

Selain sektor energi, saham perbankan raksasa atau big banks juga tidak mampu menahan tekanan jual. Emiten seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masih melanjutkan tren pelemahan. BBCA menyumbang koreksi sebesar 16 indeks poin, sementara BMRI berkontribusi 11 indeks poin terhadap pelemahan IHSG. Rontoknya saham-saham blue chip ini mengindikasikan aksi jual yang meluas di antara investor institusi.

Kepala Analis Pasar Modal mengungkapkan bahwa ambruknya IHSG dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global. Dari sisi domestik, sentimen negatif datang dari maraknya aksi jual bersih investor asing (net sell) yang berlanjut, setelah pada akhir pekan lalu mencatat net sell hingga Rp 650 miliar. Penjualan ini didorong oleh kekecewaan investor terhadap laporan kinerja keuangan tahun 2024 dari sejumlah perbankan raksasa.

Sementara itu, sentimen global juga turut membebani pasar. Investor global mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi barometer penting dalam penentuan suku bunga acuan oleh bank sentral AS (The Fed). Ketidakpastian terkait kebijakan moneter AS, ditambah dengan potensi perang tarif baru menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump, memperkuat kecenderungan investor untuk keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Login IG