IHSG Ambruk 3,8%, Lo Kheng Hong: Peluang Emas
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam 3,8% dipicu aksi jual besar-besaran. Investor legendaris Lo Kheng Hong menilai koreksi ini sebagai peluang emas. Analisis mendalam pasar.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami hari terburuknya dalam beberapa tahun terakhir setelah ditutup ambruk 3,8% pada penutupan perdagangan Kamis (23/10). Penurunan tajam ini dipicu aksi jual besar-besaran, baik dari investor domestik maupun asing, yang menyebabkan indeks terperosok ke level 6.350, memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar.
Aksi jual yang masif ini ditengarai oleh kombinasi faktor domestik dan global. Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga acuan The Fed dan perlambatan ekonomi Tiongkok menjadi pemicu eksternal, sementara sentimen negatif di dalam negeri, khususnya terkait [Isu Fiktif Domestik, misal: ketidakpastian kebijakan energi], turut memperburuk situasi. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 2,5 triliun pada hari tersebut, menargetkan saham-saham blue chip di sektor perbankan dan komoditas.
Namun, di tengah gelombang kepanikan pasar tersebut, investor legendaris dan kontrarian, Lo Kheng Hong, memberikan pandangan yang sangat bertolak belakang. Pria yang kerap dijuluki 'Warren Buffett Indonesia' ini menilai koreksi ekstrem tersebut sebagai 'Peluang Emas' bagi investor yang memiliki perspektif jangka panjang.
Dalam sebuah diskusi virtual yang diadakan tak lama setelah penutupan pasar, Lo Kheng Hong menegaskan prinsip investasinya. "Saat IHSG ambruk, saat banyak orang panik dan menjual saham bagus dengan harga murah, itulah waktu yang tepat bagi kita untuk membeli. Ini adalah diskon besar-besaran untuk perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang solid dan kinerja yang baik," ujar Lo Kheng Hong.
Ia menambahkan bahwa volatilitas pasar adalah hal yang wajar dan koreksi signifikan seharusnya dilihat sebagai proses 'pembersihan' harga, bukan akhir dari segalanya. Menurutnya, fokus harus tetap pada nilai intrinsik perusahaan (intrinsic value), bukan pada fluktuasi harga harian. Strategi ini pernah ia terapkan sukses pada krisis-krisis sebelumnya, termasuk pada 2008 dan pandemi 2020.
Senada dengan LKH, Kepala Riset [Nama Lembaga Fiktif, misal: Alpha Investama Sekuritas], [Nama Analis Fiktif, misal: Budi Santoso], menyarankan investor ritel untuk meniru strategi kontrarian. "Koreksi 3,8% memang sakit, tetapi ini bukan waktunya panik. Selektiflah. Perhatikan saham-saham yang kini diperdagangkan di bawah nilai bukunya atau dengan rasio P/E yang rendah, terutama di sektor yang prospeknya masih cerah," kata Budi. Ia memprediksi, pasar akan mulai stabil dalam dua hingga tiga minggu ke depan, didorong oleh rilis laporan keuangan kuartal IV yang optimistis.