IHSG Ambruk 1% Lebih: Efek Mengejutkan BI Tahan Suku Bunga!
IHSG Ambruk 1,04% ke 8.152,55 pada 22 Oktober 2025 setelah BI menahan BI-Rate di 4,75%, berlawanan dengan ekspektasi mayoritas pasar yang mengharapkan pemotongan suku bunga.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi signifikan pada perdagangan Rabu (22/10/2025), ambruk lebih dari 1% setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan keputusan mengejutkan untuk menahan suku bunga acuan. Keputusan ini berlawanan dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar yang mengharapkan adanya pelonggaran moneter.
Pada penutupan perdagangan harian, IHSG melemah tajam sebesar 1,04% atau terkoreksi 85,53 poin, dan parkir di level 8.152,55. Volume dan nilai transaksi harian tercatat cukup ramai, namun sentimen jual mendominasi, terutama dari investor asing.
Pelemahan ini dipicu oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21–22 Oktober 2025, yang memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga ditahan sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Keputusan untuk menahan suku bunga inilah yang dinilai mengejutkan, sebab berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun dari 13 institusi, sembilan di antaranya justru memproyeksikan BI akan kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4,50%.
Kekecewaan pasar terhadap absennya stimulus moneter ini langsung diterjemahkan menjadi aksi jual di bursa saham, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip). Sektor finansial, barang baku, dan teknologi mencatatkan koreksi sektoral terbesar. Saham emiten perbankan, sebagai penopang utama indeks, kompak melemah. Saham BBCA bahkan ambruk lebih dari 3% dan menjadi salah satu pemberat terbesar indeks.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa keputusan mempertahankan BI-Rate ini konsisten dengan prakiraan inflasi 2025 dan 2026 yang tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5% plus minus 1%. Keputusan ini juga bertujuan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, serta sinergi untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Namun, pasar tampaknya lebih fokus pada sinyal pelonggaran yang terhenti, memicu kekhawatiran terhadap momentum pertumbuhan laba perusahaan.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter yang telah ditempuh BI serta prospek stabilitas Rupiah. Tekanan jual diperkirakan masih membayangi pasar modal hingga muncul sentimen pendorong baru, atau hingga Bank Sentral memberikan kejelasan mengenai ruang penurunan suku bunga pada RDG berikutnya.