Saham

Harga Nikel Meroket, Saham Emiten Tambang ANTM & INCO Terbang Lebih dari 5%

Saham ANTM dan INCO melonjak lebih dari 5% di BEI setelah harga nikel global meroket. Kenaikan didorong oleh gangguan pasokan dan permintaan baterai EV.

Jakarta · Saturday, 25 October 2025 22:00 WITA · Dibaca: 52
Harga Nikel Meroket, Saham Emiten Tambang ANTM & INCO Terbang Lebih dari 5%

Jakarta, JClarity – Kinerja cemerlang kembali dicatatkan oleh emiten pertambangan nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan terbaru. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) kompak melonjak signifikan, bahkan melampaui level 5%, seiring dengan meroketnya harga nikel global di London Metal Exchange (LME).

Penguatan harga komoditas utama dunia, khususnya nikel, menjadi katalis utama yang mendorong aksi beli investor terhadap saham-saham berbasis nikel. Tercatat, harga nikel di LME sempat menyentuh level tertinggi dalam sembilan bulan, diperdagangkan di kisaran US$21.080 per metrik ton. Kenaikan ini didorong oleh gejolak pasokan, terutama kerusuhan di Kaledonia Baru, yang merupakan salah satu produsen nikel tambang terbesar di dunia. Selain itu, tren permintaan global untuk bahan baku baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dan isu geopolitik turut memperkuat sentimen pasar.

Di lantai bursa, saham ANTM mengakhiri perdagangan dengan kenaikan yang solid, sementara INCO, yang dikenal sangat sensitif terhadap pergerakan harga nikel, berhasil 'terbang' lebih dari 5%. Kenaikan ini menunjukkan respons positif pasar terhadap prospek pendapatan kedua perusahaan yang diperkirakan akan terdongkrak signifikan oleh kenaikan Average Selling Price (ASP) komoditas.

Sebagai dua pemain utama di industri nikel Indonesia, kinerja ANTM dan INCO sangat dipengaruhi oleh dinamika harga global. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merupakan anggota holding BUMN MIND ID yang memiliki bisnis diversifikasi, termasuk emas dan bauksit, namun juga agresif dalam proyek hilirisasi nikel untuk baterai EV. Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) fokus pada produksi nikel matte dan memiliki cadangan bijih nikel yang masif, menjadikannya 'pure player' yang paling merasakan dampak langsung dari lonjakan harga.

Meskipun harga nikel sempat menghadapi tekanan kelebihan pasokan di awal tahun, gangguan dan kendala produksi di beberapa negara utama, termasuk kontrol pasokan yang semakin ketat dari Indonesia sebagai produsen terbesar, telah membalikkan tren harga. Analis pasar memperkirakan bahwa selama ketidakpastian pasokan global berlanjut dan permintaan dari sektor EV tetap kuat, saham emiten nikel akan terus menjadi primadona. Para investor disarankan untuk tetap mencermati faktor-faktor fundamental dan perkembangan proyek hilirisasi yang dilakukan kedua emiten sebagai indikator keberlanjutan kinerja positif ini.

Login IG