Harga Batu Bara Anjlok ke US$120: Saham 'ADRO' dan 'PTBA' Terjun Bebas, IHSG Tertekan 0,8%
Harga batu bara anjlok ke US$120 menekan IHSG 0,8%. Saham ADRO dan PTBA ambles tajam, dipicu kekhawatiran surplus pasokan dan permintaan yang lemah.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, tertekan hingga 0,8%. Pelemahan ini dipicu oleh anjloknya harga komoditas batu bara global ke level psikologis US$120 per ton, yang serta merta menghantam saham-saham energi berkapitalisasi besar, terutama PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Koreksi tajam di pasar saham terjadi setelah harga acuan batu bara Newcastle Futures ambles, mencatat penurunan beruntun dalam beberapa sesi terakhir. Harga US$120 per ton menandai titik terendah baru dalam beberapa waktu, jauh dari puncak historis di atas US$400 per ton pada tahun 2022. Pemicu utama sentimen negatif ini adalah kekhawatiran global terhadap kelebihan pasokan di tengah permintaan yang lesu dari konsumen utama seperti Tiongkok dan Eropa, ditambah dengan kondisi cuaca yang relatif hangat di belahan bumi utara.
Dampak penurunan harga batu bara ini langsung terasa pada saham emiten raksasa energi Indonesia. Saham ADRO dan PTBA menjadi lokomotif pelemahan sektor pertambangan. Saham ADRO dilaporkan ambles lebih dari 6%, sementara PTBA juga tak luput dari tekanan dengan penurunan yang menyentuh batas auto reject bawah (ARB) sebesar 7%. Pelemahan kedua saham ini menyumbang porsi besar terhadap anjloknya IHSG, mengingat keduanya merupakan komponen utama dalam indeks tersebut.
Analis pasar dari Mega Capital Sekuritas, Ryan Santoso, menilai bahwa level US$120 per ton adalah titik krusial. "Pergerakan harga batu bara di bawah level ini akan mulai menggerus margin keuntungan emiten secara substansial. Investor merespons dengan aksi jual panik karena khawatir laba bersih kuartal mendatang tidak akan sebaik yang diharapkan," ujar Santoso. Ia menambahkan, tekanan jual juga diperparah oleh investor asing yang cenderung melepas saham komoditas di tengah ketidakpastian outlook energi global.
Meskipun demikian, beberapa analis lain mengingatkan bahwa secara jangka panjang, fundamental emiten batu bara Indonesia masih didukung oleh permintaan domestik (Domestic Market Obligation/DMO) yang stabil dan posisi kas yang kuat berkat keuntungan besar dari periode supercycle sebelumnya. Namun, untuk jangka pendek, sentimen pasar diperkirakan akan tetap bearish. Pasar kini menanti data impor energi dari Tiongkok dan kebijakan moneter Federal Reserve AS yang berpotensi memengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, yang akan menentukan stabilitas harga komoditas dan kinerja IHSG ke depan.