Teknologi

China Bangun Data Center Bertenaga AI Pertama di Luar Angkasa

China meluncurkan klaster satelit AI pertama untuk membangun 'Data Center Luar Angkasa' dengan 2.800 satelit, bertujuan untuk komputasi edge dan efisiensi energi.

Jakarta · Friday, 10 October 2025 04:00 WITA · Dibaca: 33
China Bangun Data Center Bertenaga AI Pertama di Luar Angkasa

JAKARTA, JClarity – Tiongkok secara resmi meluncurkan klaster satelit pertama yang berfungsi sebagai cikal bakal superkomputer berbasis Kecerdasan Buatan (AI) di orbit, menandai langkah signifikan dalam upaya membangun apa yang disebut sebagai 'Data Center Bertenaga AI Pertama di Luar Angkasa'. Proyek ambisius ini bertujuan untuk merevolusi pemrosesan data luar angkasa dan mengatasi tantangan energi pusat data berbasis darat.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program yang lebih luas yang disebut “Three-Body Computing Constellation” atau “Star Computing Program”, dipimpin oleh perusahaan teknologi antariksa Tiongkok ADA Space bekerja sama dengan Zhejiang Lab. Peluncuran awal yang sukses pada Mei 2025 melibatkan 12 satelit pertama. Klaster awal ini hanyalah langkah pertama dari rencana pembangunan konstelasi raksasa yang menargetkan total 2.800 satelit.

Konstelasi ini dirancang untuk berfungsi sebagai fasilitas komputasi edge, dengan kemampuan memproses data secara mandiri di orbit. Dengan teknologi ini, data mentah satelit, seperti citra resolusi tinggi dan data penginderaan jarak jauh, dapat diolah di luar angkasa tanpa harus dikirim sepenuhnya ke Bumi. Hal ini secara drastis mengatasi keterbatasan bandwidth dan masalah latensi transmisi yang selama ini membatasi hanya kurang dari 10% data satelit yang berhasil sampai ke stasiun penerima di darat.

Secara kolektif, 12 satelit yang telah diluncurkan tersebut menawarkan kemampuan pemrosesan gabungan mencapai lima Peta Operasi Per Detik (POPS). Setiap satelit dilengkapi dengan model AI 8 miliar parameter. Ketika konstelasi ini sepenuhnya beroperasi, Tiongkok menargetkan kapasitas pemrosesan gabungan hingga 1.000 POPS, sebuah kemampuan yang diharapkan akan menyaingi superkomputer darat tercepat di dunia.

Selain peningkatan kinerja, motivasi utama di balik pemindahan pusat data ke luar angkasa adalah isu keberlanjutan. Pusat data di Bumi membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar untuk pendinginan. Dengan menempatkan superkomputer di luar angkasa, sistem akan memanfaatkan ruang hampa dingin sebagai mekanisme pendinginan alami dan mengandalkan tenaga surya, secara signifikan mengurangi jejak karbon dan konsumsi energi global. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pusat data dapat mengonsumsi lebih dari 1.000 terawatt jam listrik pada tahun 2026, sehingga langkah Tiongkok ini dilihat sebagai strategi jangka panjang yang ramah lingkungan dan sosial.

Proyek 'Three-Body Computing Constellation' ini tidak hanya memperkuat posisi Tiongkok dalam eksplorasi antariksa, tetapi juga membuka babak baru dalam arsitektur digital global, mengubah luar angkasa menjadi garis depan baru untuk komputasi berkinerja tinggi.

Login IG