BUMI Melonjak 32% Jadi 'Bintang Utama' Perdagangan Saat IHSG Ditutup Melemah.
Saham BUMI melonjak 32% menjadi Rp198 setelah mengumumkan akuisisi perusahaan tambang emas dan tembaga Australia, meski IHSG ditutup melemah 0,29% hari ini.
JAKARTA, JClarity – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Selasa, 11 November 2025, ditutup dengan performa yang kontras, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke zona merah, sementara saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) justru menjadi ‘bintang utama’ dengan lonjakan harga yang signifikan. BUMI berhasil mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 32%, ditutup pada level Rp198 per saham, menjadikannya salah satu *top gainer* di tengah tekanan pasar yang meluas.
Di akhir sesi perdagangan, IHSG tercatat melemah 0,29% atau turun 24,72 poin, mengakhiri hari di posisi 8.366,51. Pelemahan ini sebagian besar diseret oleh aksi jual pada empat indeks sektoral, dengan sektor keuangan mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,13%. Sentimen global yang lemah serta tekanan teknikal pada saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk di sektor perbankan, menjadi faktor utama yang menekan pergerakan indeks.
Kenaikan luar biasa pada saham BUMI, yang juga tercatat sebagai emiten dengan kenaikan tertinggi dalam indeks LQ45 hari itu, dipicu oleh sentimen positif dari aksi korporasi strategis. Perusahaan pertambangan batu bara tersebut resmi mengakuisisi 100% saham Wolfram Limited, sebuah perusahaan tambang emas dan tembaga yang berbasis di Australia. Langkah diversifikasi ini dilihat oleh analis pasar sebagai upaya BUMI untuk memperluas portofolio bisnisnya di luar komoditas batu bara, memberikan sinyal prospek jangka pendek yang menjanjikan.
Akuisisi Wolfram Limited menandai pergeseran fokus BUMI, seiring dengan adanya proyeksi bahwa permintaan batu bara global akan mencapai puncaknya di tahun 2030. Dari sisi teknikal, lonjakan harga BUMI tersebut didukung oleh peningkatan volume transaksi yang signifikan (*spike*), mengindikasikan minat beli investor yang tinggi pasca pengumuman akuisisi. Meskipun demikian, para analis tetap mengingatkan investor untuk mencermati volatilitas pasar dan mewaspadai potensi koreksi, mengingat IHSG masih dibayangi oleh sentimen global dan tekanan *profit taking* pada sejumlah saham unggulan.